Jakarta

Guru dan Tantangan Menciptakan Sekolah yang Aman di Era Media Sosial

Anggerhana Denni Rahmawati | 4 Oktober 2026, 09:30 WIB
Guru dan Tantangan Menciptakan Sekolah yang Aman di Era Media Sosial
Saat tugas guru tak hanya mengajar, tapi juga membentuk karakter siswa di sekolah. - OpenAi

AKURAT JAKARTA - Guru selama ini kerap dipandang sebagai sosok yang bertugas menyampaikan pelajaran kepada siswa.

Namun, peran tersebut ternyata tidak berhenti ketika materi di kelas selesai.

Cara guru membangun interaksi di sekolah juga dapat ikut membentuk perilaku dan karakter siswa.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyebut guru memiliki dua peran yang tidak dapat dipisahkan, yakni sebagai agent of learning dan agent of civilization.

Sebagai agen pembelajaran, guru menjadi figur yang mentransfer ilmu, nilai, dan keterampilan kepada siswa.

Sementara sebagai agen peradaban, guru memiliki peran lebih luas dalam membentuk lingkungan yang membantu siswa belajar tentang toleransi, keterbukaan, dan kerja sama.

"Substansi pendidikan adalah membangun peradaban dan karakter, sehingga manusia memiliki sikap toleran, terbuka, serta siap bekerja sama," tuturnya dalam Webinar Internasional Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, Jumat (2/10/2026).

Menurut Mu'ti, sekolah dapat menjadi meeting point sekaligus melting point, tempat guru dan siswa bertemu serta berinteraksi secara edukatif.

Lingkungan yang dibentuk bukan hanya ruang kelas atau fasilitas sekolah, tetapi juga mencakup lingkungan sosial, spiritual, hingga digital.

Hal ini menjadi penting karena perilaku siswa tidak terbentuk hanya dari apa yang mereka pelajari di sekolah.

Baca Juga: Beasiswa LPDP Jakarta 2027 Disiapkan, Biaya Sebelum Tes Jadi Sorotan

Mu'ti menyoroti pengaruh keluarga, masyarakat, media massa, dan media sosial terhadap perilaku anak, termasuk ketika mereka melakukan tindakan kekerasan.

"Banyak anak yang berperilaku kekerasan biasanya terpengaruh oleh lingkungan keluarga, masyarakat, atau apa yang mereka tonton di media massa maupun media sosial," ujarnya.

Karena itu, guru dinilai dapat berperan dalam membangun apa yang disebut sebagai hidden curriculum.

Siswa tidak hanya belajar dari buku atau materi pelajaran, tetapi juga dari pengalaman dan kebiasaan yang mereka temui setiap hari di sekolah.

Pendekatan tersebut sejalan dengan kebijakan pembelajaran mendalam atau deep learning.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.