Jakarta

Mahasiswa Tingkat Akhir Rentan Burnout, Penelitian Wisudawan Terbaik UB Ungkap Pemicu Utamanya

Anggerhana Denni Rahmawati | 16 Oktober 2026, 07:30 WIB
Mahasiswa Tingkat Akhir Rentan Burnout, Penelitian Wisudawan Terbaik UB Ungkap Pemicu Utamanya
Perfeksionisme tak selalu positif, Rachel UB ungkap kaitannya dengan burnout mahasiswa. - UB

AKURAT JAKARTA - Mengejar kelulusan tepat waktu, menyelesaikan skripsi, dan memenuhi harapan orang lain bisa menjadi tekanan tersendiri bagi mahasiswa tingkat akhir.

Dalam kondisi tersebut, keinginan untuk selalu menghasilkan sesuatu yang sempurna justru dapat menambah beban akademik.

Fenomena ini menjadi perhatian Rachel Nasha Aziza, Wisudawan Terbaik Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB).

Lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,95, Rachel mengangkat hubungan antara perfeksionisme dan academic burnout dalam penelitiannya.

Skripsi berjudul “Hubungan antara Perfeksionisme dan Academic Burnout pada Mahasiswa Tingkat Akhir” tersebut berangkat dari fenomena yang ia temukan di lingkungan sekitarnya.

Ia melihat mahasiswa menghadapi berbagai tuntutan secara bersamaan, mulai dari urusan akademik hingga persiapan memasuki dunia setelah kuliah.

Ekspektasi Orang Lain Jadi Faktor yang Perlu Diperhatikan

Rachel menemukan bahwa perfeksionisme memiliki hubungan dengan burnout akademik pada mahasiswa tingkat akhir.

Dari tiga dimensi perfeksionisme yang diteliti, standar tinggi yang dirasakan berasal dari ekspektasi orang lain menunjukkan hubungan paling kuat dengan burnout akademik.

"Menurut saya, perfeksionisme tidak sesederhana ingin melakukan sesuatu dengan baik," jelas Rachel.

Baca Juga: Legislator Golkar Dadiyono Pertanyakan Undangan Sertifikat PTSL Tak Sampai ke Warga, Lurah Jadi Sorotan

Perfeksionisme bukan hanya tentang keinginan memperoleh nilai bagus atau menyelesaikan tugas dengan hasil maksimal.

Tekanan juga dapat muncul ketika seseorang merasa harus memenuhi standar tertentu yang diyakini diharapkan oleh orang lain.

Dalam kehidupan mahasiswa, tekanan tersebut bisa berkaitan dengan harapan keluarga, tuntutan lingkungan, atau anggapan bahwa keberhasilan harus dicapai dalam waktu tertentu.

Ketika standar itu terus membebani pikiran, proses menyelesaikan kuliah dapat terasa semakin berat.

Mahasiswa bukan hanya berhadapan dengan tugas akademik, tetapi juga perasaan bahwa hasil yang dicapai harus selalu memenuhi harapan pihak lain.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.