Jakarta

Polisi: Faktor Utama Kecelakaan Betuntun Tol Cipularang Pengemudi Gunakan Gigi Persneling Tinggi di Jalur Turunan Panjang, Akibatnya...

Ainun Kusumaningrum | 22 November 2024, 11:33 WIB
Polisi: Faktor Utama Kecelakaan Betuntun Tol Cipularang Pengemudi Gunakan Gigi Persneling Tinggi di Jalur Turunan Panjang, Akibatnya...

AKURAT JAKARTA - Terungkap dari hasil penyelidikan polisi faktor utama kecelakaan beruntun di Tol Cipularang yang mengakibatkan korban jiwa.

Dirgakkum Korlantas Polri, Brigjen Raden Slamet Santoso mengungkapkan hasil pemeriksaan terkait kecelakaan beruntun yang terjadi di KM 92B Tol Cipularang belum lama ini.

Dari hasil penyelidikan sementara, ditemukan bahwa faktor dominan penyebab kecelakaa adalah kelalaian dalam cara mengemudi kendaraan, terutama pada saat melintasi jalur turunan panjang.

Baca Juga: Siapa Sopir Truk yang Sebabkan Kecelakaan Beruntun di Tol Cipularang KM 92? Berikut Sosok Rouf, yang Tabrak Belasan Mobil dan Masih Diperiksa Polisi

"Faktor utama adalah pengemudi yang menggunakan gigi persneling tinggi saat melintas di jalur turunan panjang," ujar Raden Slamet dikutip pada Kamis (21/11/2024).

"Akibatnya, pengemudi hanya mengandalkan rem untuk memperlambat kendaraan, tanpa memanfaatkan engine brake atau gigi rendah yang seharusnya digunakan untuk menurunkan kecepatan," sambungnya.

Dalam pemeriksaan lebih lanjut, ditemukan beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh pengemudi truk yang terlibat dalam kecelakaan tersebut.

Baca Juga: Kecelakaan Maut di Batam, 2 Motor Tabrakan Keras, Siswa SMA Berprestasi Meninggal Dunia

Seperti tidak memperhatikan rambu lalu lintas yang mengharuskan penggunaan gigi rendah di jalur turunan panjang.

"Rambu-rambu tersebut sudah ada, namun pengemudi tidak mengindahkan dan terus menggunakan gigi persneling besar, yang justru memperburuk kondisi kendaraan," tuturnya.

Selain itu, lanjut Slamet, hasil investigasi menunjukkan bahwa pengemudi juga mengabaikan indikator peringatan di dashboard kendaraan terkait tekanan udara dalam sistem rem.

Baca Juga: Berikut Jadwal Empat Laga Sisa Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia

"Meskipun sudah ada alarm yang berbunyi di dashboard, yang menandakan penurunan tekanan udara yang mengganggu kemampuan rem, pengemudi tidak segera melakukan tindakan yang diperlukan," terangnya.

Lebih lanjut, pengemudi juga tidak memanfaatkan jalur penyelamat yang tersedia di sekitar lokasi kecelakaan.

"Di Cipularang terdapat beberapa titik jalur penyelamat di KM 116, KM 92, dan KM 91 yang dapat digunakan jika kendaraan tidak dapat mengerem dengan baik. Namun, jalur ini tidak digunakan oleh pengemudi," ungkapnya.

Slamet menyebut penyelidikan dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya terhadap pengemudi, tetapi juga terhadap pengelola armada, pemilik kendaraan, hingga pihak terkait seperti bengkel atau pihak yang membangun jalan tersebut.

"Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan siapa saja yang bertanggung jawab atas kecelakaan ini," tukasnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.