Jakarta

Viral, Ada Gengster di Ponpes HK Kuningan? Seorang Santri Tewas Dikeroyok-Dikurung di Gudang, Curhatan Alumni Ini Bikin Marah, Sedih, dan Prihatin

Sastra Yudha | 14 Desember 2023, 15:11 WIB
Viral, Ada Gengster di Ponpes HK Kuningan? Seorang Santri Tewas Dikeroyok-Dikurung di Gudang, Curhatan Alumni Ini Bikin Marah, Sedih, dan Prihatin

AKURAT JAKARTA - Seorang santri Ponpes Husnul Khotimah (HK) Kuningan, Jawa Barat, berinisial H (18) meninggal dunia karena dikeroyok teman satu asrama.

Kuasa hukum Ponpes HK Kuningan, Taufik Eka Alfauzan Sukirman, menjelaskan bahwa insiden ini dipicu perselisihan kecil antara korban dan santri lainnya.

Menurutnya, peristiwa memilukan ini terjadi pada Kamis malam, sekitar pukul 23.00 WIB, di sebuah ruangan dekat asrama putra.

"Kejadiannya pada hari Kamis (30/11) malam sekitar pukul 23.00 WIB di salah satu ruangan asrama lantai tiga, saat sebagian besar para santri sudah tertidur. Dipicu oleh perselisihan kecil antara korban dan sesama teman santri lain sehingga terjadi pemukulan. Ternyata aksi pemukulan tersebut berlanjut hingga Jumat (1/12) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB," ucap Eka.

Tak sampai di situ, para pelaku pemukulan kemudian membawa korban ke gudang di lantai satu, lalu menguncinya dari luar. Hingga akhirnya keberadaan korban diketahui oleh wali asrama pada Jumat pagi dalam kondisi banyak ditemukan luka lebam di tubuhnya.

Baca Juga: Pakai Taktik 'Membunuh Tikus di Sarangnya', Israel Ternyata Meniru Mesir: Banjiri Terowongan Gaza dengan Air Laut

Korban kemudian dibawa ke klinik Ponpes. Kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Juanda. Namun, karena keterbatasan alat, korban dirujuk lagi ke RSUD '45 Kuningan.

Hasil pemeriksaan medis, ditemukan beberapa luka dalam di tubuh korban, sehingga harus dilakukan tindakan operasi. Namun malang, sehari setelah operasi kondisi korban memburuk dan akhirnya meninggal dunia pada Senin (4/12) pagi.

Peristiwa ini mendapat reaksi dari sejumlah pihak. Salah satunya seorang ibu/wali santri yang juga alumni Ponpes HK Kuningan, inisial SH. Ia menulis panjang lebar soal tragedi yang menimpa anak dari temannya ini.

"Saya mengajak semua alumni untuk melihat masalah ini secara proporsional dan dengan mata batin empati dan peduli: empati terhadp keluarga Almarhum, orangtua pelaku dan HK tercinta dan peduli kepada seluruh pesantren dan lembaga Islam yang mengemban amanah pendidikan dan dakwah Islam," katanya.

Baca Juga: Dear Pecinta Musik Indie, Ada Konser Musik Rumah Sakit dan Nuansa Disko, Cek Tanggal Dan Lokasinya di Sini

Ia menyebutkan, tulisan yang ia buat ini didasarkan pada informasi yang diperoleh dari sumber yang sangat dipercaya, berdasarkan penuturan korban beberapa jam sebelum menghembuskan nafas.

“Almarhum dikeroyok oleh gerombolan santri rekan seangkatannya dalam keadaan terikat dari jam 23.00 hingga jam 02.00. Setelah itu diseret dari lantai tiga ke lantai satu, dimasukkan ke dalam gudang dan dikunci dari luar hingga Shubuh,” katanya.

"Tak sanggup saya menceritakan detil penyiksaan itu dalam tulisan ini. Silahkan pembaca membayangkan derita yang dirasakan jika kita digebukin oleh lima orang saja dalam waktu 30 menit. Almarhum mengalaminya selama 3 jam. Dan diseret. Dan disekap dalam gudang selama 2 jam !!! Dilakukan oleh lebih dari 10 orang. Diduga 18 orang," lanjutnya.

Warga Bekasi, Jawa Barat, ini meluapkan perasaannya dalam tulisan tersebut. Marah, sedih dan prihatin. Campur aduk perasaannya atas peristiwa tragis ini.

Baca Juga: Wong Cilacap Kudu Merapat! Festival Musik Indie di Lapangan Karangkandri Akhir Pekan Ini, Cek Daftar Pengisi Acaranya di Sini

Marah, karena gerombolan santri yang masih belia sanggup melakukan penyiksaan terhadap rekannya seangkatan dalam keadaan terikat selama berjam-jam, hingga menyebabkan kematian.

Sedih, karena korban menderita psikis dan fisik akibat penyiksaan melampaui batas sebelum wafatnya di usia muda saat sedang menuntut ilmu.

Prihatin, karena tempat kejadian perkara ada di Ponpes HK Kuningan, yang telah menghasilkan ribuan lulusan dengan akhlaq Islam, di mana korban dan pelaku sehari-hari shalat berjamaah lima waktu di masjid, melantunkan zikir pagi petang, melakukan setoran hapalan qur'an.

"Dengan ini saya memohon agar HK tercinta, dan lembaga-lembaga Islam, melakukan pembenahan agar tidak dikategorikan Allah sebagai entitas yang berperan
melanggengkan terjadinya “membunuh seorang mu’min dengan sengaja”. Jangan terjadi lagi nyawa seorang muslim dihilangkan," pintanya.

Menurutnya, pembunuhan adalah puncak kekerasan. Maka harus diantisipasi sikap dan perilaku yang bisa menjadi turunan dari pembunuhan: persekusi, pemalakan, perundungan, penyiksaan, penerapan hukuman fisik, pengeroyokan dan lainnya.

"Saya tidak ingin memasuki ranah hukum yang menjadi concern keluarga Almarhum dan keluarga para pelaku. Saya hanya ingin berbagi agar HK tercinta, juga lembaga-lembaga Islam lainnya, belajar dari persitiwa ini: mengkaji mengapa ini terjadi, berbenah bagaimana agar tidak terulang di kemudian hari," katanya.

Baca Juga: Konser Musik KAUM REGGAE BERSATU Vol.05 Semangat Kemanusiaan Untuk Gaza, Cek Disini

Ia pun melontarkan sejumlah pertanyaan.

  1. Apa sesungguhnya faktor utama yang mendorong gerombolan santri ini melakukan penyiksaan terhadap korban?
  2. Bagaimana gerombolan santri ini membangun solidaritas sehingga mempersonifikasikan korban sebagai musuh bersama?
  3. Darimana dan bagaimana gerombolan santri ini belajar cara mempersekusi korban dengan metode yang biadab ini?
  4. Mengapa gerombolan santri ini kehilangan rasa kasihan kemanusiaan berjam-jam lamanya?
  5. Mengapa tidak ada interupsi dari kalangan gerombolan santri ini untuk menghentikan penyiksaan? Kalaupun ada, mengapa interupsi ini kalah dengan
    dominasi sikap yang memilih menjalankan penyiksaan?
  6. Apakah gerombolan ini terbentuk secara spontan atau merupakan kelompok/gengster yang sudah punya solidaritas internal sejak lama?
  7. Apakah korban ini merupakan orang yang dianggap di luar lingkaran atau bagian dari lingkaran pertemanan gerombolan santri pelaku kekerasan ini?
  8. Mengapa kegiatan amaliyah ibadah harian (sholat berjamaah, dzikir, baca quran dll) tidak berbekas atau tidak dapat menginterupsi luapan emosi yang
    diwujudkan dalam bentuk penyiksaan terhadap korban dalam keadaan terikat?
  9. Apakah tidak ada indikasi yang bisa dideteksi pesantren selama ini mengenai kecenderungan gerombolan santri ini melakukan kekerasan biadab?
  10. Adakah SOP pembinaan santri khususnya pencegahan bullying selama ini?
  11. Jika ada, apakah SOP ini diterapkan secara konsisten?
  12. Bagaimanakah sistem pengawasan pembinaan santri selama ini?

"Kompleksitas kejiwaan remaja dengan segala dinamikannya rasanya tak cukup dipantau hanya di ruang-ruang kelas, di masjid, di asrama dan di lapangan. Harus dapat diselami bagaimana hubungan di antara mereka terjalin," tulisnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.