Jakarta

Tokoh Muda Tangerang Sebut Maesyal-Intan Teruji Secara Etikabilitas, Intelektualitas dan Elektabilitas

Ainun Kusumaningrum | 9 September 2024, 15:58 WIB
Tokoh Muda Tangerang Sebut Maesyal-Intan Teruji Secara Etikabilitas, Intelektualitas dan Elektabilitas

AKURAT JAKARTA – Tokoh muda Kabupaten Tangerang Juhanda SM mengatakan, Calon Bupati Tangerang Maesyal Rasyid yang berpasangan dengan Intan Nurul Hikmah, adalah sosok pemimpin yang teruji.

Menurut Juhanda, dalam Pilkada 2024 mendatang, warga Tangerang harus melihat latarbelakang calon.

“Ada tiga hal yang harus dilihat dan teruji saat memilih nanti," kata Juganda tokoh Asal Solear Tangerang.

Baca Juga: Ini 4 Sektor yang Jadi Fokus Utama Maesyal Rasyid - Intan Nurul Hikmah Jika Jadi Bupati dan Wakil Bupati Tangerang Periode 2024-2029

Dia menegaskan, calon nanti hàrus teruji secara Etikabilitas, teruji secara Intelektualitas dan teruji secara Elektabilitas.

"Dalam memilih pemimpin, penting untuk melihat bagaimana calon pemimpin tersebut menjaga etika dalam mengambil keputusan, berinteraksi dengan orang lain, dan menjalankan tugasnya," ujarnya.

Dia mengatakan, tiga hal itu ada pada sosok Bakal calon Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyied.

Baca Juga: Program Unggulan Maesyal-Intan: Perbanyak Puskesmas Rawat Inap, Program Peduli Pendidikan hingga Perbanyak Buka BLK

Juhanda mengungkapkan, sosok Maesyal ini telah teruji secara Etikabilitas, karena pemimpin yang teruji Etikabilitasnya adalah seseorang yang memiliki integritas moral yang tinggi dan selalu bertindak sesuai dengan nilai-nilai etika.

Etikabilitas yang kuat memastikan bahwa pemimpin dapat dipercaya, transparan, serta tidak terlibat dalam tindakan yang merugikan secara moral seperti Korupsi, Nepotisme, atau penyalahgunaan kekuasaan.

"Pemimpin dengan etikabilitas yang baik juga cenderung memperhatikan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi,” jelasnya.

Baca Juga: Ridwan Kamil Janji Beri Rp200 Juta per RW, Bang Zaki: APBD Jakarta Memungkinkan Program Ini Diterapkan

Secara Intelektualitas, lanjut Juhanda, merujuk pada kemampuan seorang pemimpin dalam memahami, menganalisis, dan mengatasi berbagai tantangan kompleks yang dihadapinya.

“Pemimpin yang teruji secara intelektualitas memiliki wawasan luas, pemahaman mendalam mengenai berbagai aspek, serta mampu mengambil keputusan berdasarkan data, analisis, dan pemikiran kritis,” terangnya.

Dijelaskan dia, pemimpin yang cerdas juga terus belajar dan terbuka terhadap gagasan baru, sehingga mampu beradaptasi dengan perubahan zaman dan menghadirkan solusi inovatif.

Dalam konteks politik, bisnis, atau organisasi, intelektualitas juga menunjukkan kemampuan seorang pemimpin dalam memahami konteks yang lebih besar dan merumuskan kebijakan yang efektif.

Yang ketiga kata dia yang harus dilihat, secara Elektabilitasnya, yakni kemampuan seorang pemimpin untuk memenangkan kepercayaan dan dukungan dari masyarakat atau kelompok yang dipimpinnya.

Ini mencakup bagaimana seorang calon pemimpin berkomunikasi dengan audiens, menjaga reputasi, dan membangun hubungan yang kuat dengan konstituennya.

“Seorang pemimpin yang memiliki elektabilitas tinggi biasanya memiliki karisma, rekam jejak yang baik, serta visi yang dapat menarik dan menggerakkan orang lain,” ujarnya.

Namun, kata dia, penting untuk dicatat bahwa elektabilitas tidak hanya soal popularitas, tetapi juga tentang kemampuan untuk mempertahankan dukungan dan kepercayaan tersebut dalam jangka panjang melalui kinerja yang konsisten.

Ketiga aspek ini yaitu Etikabilitas, Intelektualitas dan Elektabilitas harus dipertimbangkan secara bersamaan untuk memilih pemimpin yang ideal.

“Pemimpin yang teruji dalam ketiga hal ini akan mampu memimpin dengan moralitas yang baik, kecerdasan yang memadai, dan dukungan yang kuat dari masyarakatnya dan itu semua ada pada sosok Maesyal Rasyied – Intan Nurul Hikmah,” ungkapnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.