Jakarta

Pemkab Tangerang Petakan Kesiapan Cibetok dan Gunung Kaler Jadi Desa Ramah Perempuan dan Anak atau DRPPA Menuju RBI 2026

Sastra Yudha | 23 Januari 2026, 07:03 WIB
Pemkab Tangerang Petakan Kesiapan Cibetok dan Gunung Kaler Jadi Desa Ramah Perempuan dan Anak atau DRPPA Menuju RBI 2026

AKURAT JAKARTA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang sedang mempersiapkan Desa Cibetok dan Desa Gunung Kaler, Kecamatan Gunung Kaler, menjadi Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA).

Sebagai Langkah awal, Pemkab Tangerang melakukan pemetaan kondisi desa dengan menggelar survei langsung ke lokasi, yang dilaksanakan pada Kamis (22/1/2026).

Kegiatan ini menjadi langkah awal sebagai dasar perencanaan program pembangunan yang berperspektif perempuan dan anak menuju Ruang Bersama Indonesia (RBI) Tahun 2026.

Baca Juga: Dari Mana Kopi Indonesia Berasal? Ini Sejarahnya

Bupati Maesyal Rasyid yang diwakili Asisten Daerah I, Prima Saras Puspa, menegaskan bahwa DRPPA merupakan pendekatan pembangunan desa yang menempatkan perempuan dan anak sebagai subjek pembangunan.

Pendekatan ini bertujuan menciptakan desa yang aman, adil, inklusif, dan berkelanjutan. Pada tahap awal, DRPPA dibangun melalui 10 indikator utama.

"Mulai dari pengorganisasian perempuan dan anak, ketersediaan data desa terpilah, hingga pencegahan kekerasan serta perkawinan anak,” terangnya.

Seiring penguatan kebijakan dan integrasi layanan di tingkat desa, pendekatan DRPPA kini diperkuat melalui konsep Ruang Bersama Indonesia (RBI).

Indikator pemenuhan layanan, perlindungan, dan pemberdayaan perempuan serta anak pun berkembang menjadi 15 indikator, yang mencakup aspek pengorganisasian, data gender dan anak, regulasi desa, serta pembiayaan dan aset desa.

Baca Juga: Jakarta Dikepung Banjir hingga 50 Sentimeter, Golkar Desak Antisipasi Dampak Perubahan Iklim

"Kemudian juga ada keterlibatan perempuan dan anak dalam pembangunan, hingga pemenuhan hak anak, pendidikan, kesehatan, dan penghapusan pekerja serta perkawinan anak," ungkapnya.

Penguatan RBI menekankan integrasi kelembagaan layanan, sistem pengaduan dan rujukan, pencegahan kekerasan berbasis komunitas, penguatan ketahanan keluarga, serta penciptaan lingkungan desa yang aman dan ramah bagi perempuan dan anak.

“Melalui survei awal ini, kita melakukan pemetaan kondisi awal desa secara komprehensif sebagai dasar perencanaan program dan intervensi yang tepat sasaran, terukur, dan berkelanjutan,” jelasnya.

Dikatakan Prima, survei awal ini dilakukan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan di tingkat desa dan kecamatan.

Prima berharap, kegiatan ini menjadi awal yang baik bagi Kecamatan Gunung Kaler dalam mempersiapkan diri sebagai lokus DRPPA, sekaligus membangun komitmen bersama antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh unsur terkait.

Baca Juga: Pemain Timnas Indonesia Miliano Jonathans Cetak Gol Selamatkan Excelsior dari Kekalahan

Untuk itu, sinergi, partisipasi aktif masyarakat, serta konsistensi pelaksanaan di lapangan dibutuhkan untuk keberhasilan DRPPA menuju RBI Tahun 2026.

Sementara Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Tangerang, Asep Suherman, menyampaikan bahwa DRPPA merupakan model desa yang dikembangkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPPA).

Kegiatan ini bertujuan untuk mewujudkan desa yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan perempuan dan anak.

“DRPPA bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat dan stakeholder," tegasnya.

Fokusnya tidak hanya pada perlindungan, tetapi juga pemberdayaan perempuan, penguatan peran ibu dalam pengasuhan, serta pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Baca Juga: Sempat Alami Panic Attack Pasca-Melahirkan, Meghan Trainor Kini Sambut Anak Ketiga Lewat 'Surrogate'

Asep Suherman menambahkan, program DRPPA menuju RBI merupakan kelanjutan dan penguatan yang bertujuan menyediakan ruang kolaboratif dalam mendukung pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

"Di Kabupaten Tangerang, perubahan program ini diarahkan untuk mempercepat replikasi, meningkatkan sinergi dan kolaborasi, menciptakan ruang aman dan inklusif, memperkuat fungsi layanan, mendorong kemandirian ekonomi perempuan, serta membangun karakter anak," pungkasnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.