Jakarta Dikepung Banjir hingga 50 Sentimeter, Golkar Desak Antisipasi Dampak Perubahan Iklim

AKURAT JAKARTA – Hujan deras yang mengguyur Ibu Kota sejak Kamis (22/1/2026) pagi menyebabkan sejumlah ruas jalan utama di Jakarta tergenang.
Situasi ini memicu kemacetan parah dan memaksa tim gabungan bersiaga penuh guna mencegah jatuhnya korban serta kerugian material yang lebih besar bagi warga.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta hingga pukul 10.00 WIB, terdapat delapan ruas jalan yang terendam air dengan ketinggian bervariasi antara 10 hingga 50 sentimeter.
Wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat menjadi area terdampak paling signifikan, di antaranya kawasan Jalan Gaya Motor dan Jalan Daan Mogot KM 13 yang sempat tersendat akibat luapan air.
"Genangan ditargetkan surut dalam waktu cepat. Kami telah mengerahkan tim dari Dinas Sumber Daya Air (SDA) hingga Gulkarmat untuk melakukan penyedotan di titik-titik krusial," ujar Kapusdatin BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan.
Dampak banjir kali ini mengubah pola mobilitas masyarakat. Kabag Binopsnal Ditlantas Polda Metro Jaya, Kompol Robby Hefados, menyebutkan kepadatan di jalur arteri justru memuncak sekitar pukul 10.00 WIB.
Baca Juga: Golkar Minta Bulog Perkuat Sistem Ketahanan Pangan di Wilayah Rawan Bencana
Hal ini terjadi karena banyak warga yang menunda perjalanan sejak pagi akibat hujan deras yang tak kunjung reda.
Petugas kepolisian dikerahkan secara masif untuk memberikan panduan langsung bagi pengendara.
"Personel ditempatkan di titik rawan untuk mengarahkan apakah ruas jalan tersebut layak dilintasi atau tidak, guna meminimalkan kendaraan yang mogok di tengah genangan," jelas Kompol Robby.
Terkait banjir Fraksi Partai Golkar DPRD DKI Jakarta sebelumnya telah mengingatkan pemerintah bahwa banjir bukan sekadar masalah genangan, melainkan ancaman ekonomi yang serius.
Anggota Fraksi Golkar, Dimaz Raditya, mengungkapkan bahwa kerugian rutin tahunan akibat banjir di Jakarta kini telah menyentuh angka Rp2,1 triliun.
Dimaz menilai, penanganan banjir harus bergeser dari sekadar respons darurat menuju pendekatan jangka panjang yang memperhatikan perubahan iklim.
Apalagi, menurutnya, sekitar 40 persen wilayah Jakarta kini sudah berada di bawah permukaan laut.
"Faktor cuaca ekstrem dan fenomena meteorologis kian sering terjadi. Kita membutuhkan penanganan lintas wilayah agar kerugian ekonomi dan sosial masyarakat tidak terus berulang setiap tahunnya," tegas Dimaz. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di UNL, 25 September 2026: Duel Perdana yang Sulit Diprediksi
- 2Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di UNL, 25 September 2026: Dapatkah Khvicha Kvaratskhelia Menjadi Pembeda?
- 3Prediksi Skor Armenia vs Latvia di UNL, 25 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Tanpa Kemenangan?
- 4Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di UNL, 26 September 2026: Mampukah The Brave Falcons Lanjutkan Tren Positif?
- 5Prediksi Skor Andorra vs Malta di UNL, 24 September 2026: Mampukah Tim Tamu Pertahankan Rekor Tak Terkalahkan?
- 6Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di UNL, 26 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit?
- 7Prediksi Skor Austria vs Israel di UNL, 25 September 2026: Tuan Rumah Bidik Awal dengan Kemenangan
- 8Prediksi Skor Hungaria vs Ukraina di UNL, 26 September 2026: Duel Ketat di Budapest
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!




