Mengenal Halal bihalal, Tradisi Silaturrahmi Khas Indonesia di Hari Lebaran, Jangan Buru-buru Beri Stempel Bid'ah!

AKURAT JAKARTA - Umat islam Indonesia kemungkinan besar akan merayakan Lebaran Idulfitri tahun ini pada 10 April 2024.
Meski Pemerintah baru akan menggelar sidang isbat pada 9 April 2024 untuk menentukan Hari Raya Idulfitri, organisasi keagamaan islam tertua di Indonesia, Muhammadiyah, sudah memutuskan bahwa hari besar umat islam ini jatuh pada 10 April 2024.
Bagi umat islam Indonesia, Lebaran Idulfitri merupakan momen spesial menjalin kembali tali silaturrahmi untuk keluarga, teman, dan tetangga.
Baca Juga: Pemudik Wajib Tahu! Simak Tips Mengatasi Ngantuk Ketika Berkendara Jauh
Nah, di Indonesia ada tradisi khas Lebaran Idulfitri yang bisa dibilang sebagai bagian dari cara masyarakat menjaga tali silaturrahmi.
Tradisi Lebaran di Indonesia itu yakni Halal bihalal.
Halal bihalal merupakan kalimat serapan dari Bahasa Arab, yang terdiri dari tiga kata; halal, bi, dan halal.
Baca Juga: Update Kecelakaan Maut GranMax di Tol Cikampek, Petugas Evakuasi 13 Kantong Jenazah dan Satu Korban Berhasil Diidentifikasi
Apabila diartikan berdasarkan bahasa, halal bihalal berarti yang halal dengan yang halal.
Namun, Kamus Besar Bahasa Indonesia kemudian memasukkan kalimat halal bihalal ini sebagai bahasa baku Indonesia yang berarti hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah Puasa Ramadan.
Halal bihalal biasanya diadakan sekelompok orang di sebuah tempat, bisa auditorium, aula, dan lain-lain.
Baca Juga: CEK! 5 Fakta Menarik dari Drama Korea Wonderful World yang Sudah Tayang di Disney+ Hotstar
Sebagai tradisi khas Tanah Air, ada beberapa versi dari kemunculan halal bihalal.
Dikutip dari laman Kemenko PMK, versi pertama menyebutkan halal bihalal berasal dari kata 'alal behalal' dan halal behalal.
Kalimat ini masuk dalam kamus Jawa Belanda karangan Dr. Th Pigeud 1938.
Baca Juga: Jokowi: Manajemen Arus Mudik Cukup Baik dan Terkendali, Laka Lantas Jauh Lebih Menurun
Di kamus karangan Dr. Th Pigeud ini halal behalal berarti 'dengan salam (datang, pergi) untuk (memohon maaf atas kesalahan kepada orang lebih tua atau orang lainnya setelah puasa (Lebaran, Tahun Baru Jawa).'
Adapun halal behalal diartikan sebagai 'dengan salam (datang, pergi) untuk (saling memaafkan di waktu Lebaran).'
Halal bihalal versi ini dipopulerkan pertama kali dari pedagang martabak asal India di Taman Sriwedari Solo pada 1935-1936.
Baca Juga: 25 Ucapan Selamat Idul Fitri 2024, Cocok Jadi Pesan Lebaran untuk Keluarga, Kerabat, Teman dan Rekan Kerja
Sebagai jajanan yang tergolong baru bagi masyarakat Indonesia, pedagang asal India ini lalu mempromosikan dagangannya dengan meneriakkan, "Martabak Malabar, halal bin halal, halal bin halal".
Sejak saat itu, istilah halal behalal mulai populer di masyarakat Solo.
Belakangan, masyarakat setempat menggunakan istilah halal bihalal setiap hendak bertamasya ke Taman Sriwedari pada Hari Lebaran.
Baca Juga: Cek! Lokasi 7 Posko Siaga Mitsubishi yang Tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera, Ada Diskon Servis hingga 30 Persen Selama Mudik Lebaran 2024
Penggunaan istilah halal bihalal lalu semakin meluas sebagai momen silaturrahmi di Hari Lebaran.
Versi kedua, halal bihalal berasal dari KH Abdul Wahab Hasbullah pada 1948.
Salah satu pendiri Nahdlatul Ulama itu memperkenalkan istilah Halal bihalal kepada Presiden Soekarno.
Baca Juga: Kupas Tuntas Istilah Silaturahmi, Tradisi yang Selalu Ada di Momen Lebaran
Kiai Wahab menyarankan Bung Karno mengundang seluruh tokoh politik datang ke Istana Negara menghadiri silaturrahmi yang diberi judul Halal bihalal.
Halal bihalal saat itu menjadi media silaturrahmi antar antar-pemimpin politik untuk meredakan konflik.
Dan memang, saran Kiai Wahab ini terbukti manjur untuk membuat para tokoh politik duduk dalam satu meja.
Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Maut di KM 58 Tol Jakarta-Cikampek, Bus dan 2 Minibus Terbakar, 12 Pemudik Tewas Terjebak Lumatan Api
Tradisi elit politik ini lalu menyebar di kalangan masyarakat awam dan menjadi tradisi sampai sekarang.
Meski begitu, tradisi serupa dengan Halalbihalal diyakini sudah ada sejak masa Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa.
Saat itu, untuk menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, Pangeran Sambernyawa mengadakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana setelah salat Idulfitri.
Baca Juga: 9 Tradisi Khas Lebaran di Indonesia, Nomor 1 Bisa Sangat Melelahkan dan Nomor 7 Menjadi Kenangan Manis
Di pertemuan itu diadakan tradisi sungkem atau saling memaafkan.
Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri.
Tradisi sungkem dan saling memaafkan ini lalu ditiru organisasi-organisasi Islam dengan istilah halal bihalal.*
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor Kepulauan Faroe vs Kazakhstan di UNL, 26 September 2026: Tuan Rumah Punya Modal Kandang Kuat
- 2Prediksi Skor Islandia vs Estonia di UNL, 26 September 2026: Tuan Rumah Incar Awal Positif
- 3Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di UNL, 25 September 2026: Duel Perdana yang Sulit Diprediksi
- 4Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di UNL, 25 September 2026: Dapatkah Khvicha Kvaratskhelia Menjadi Pembeda?
- 5Prediksi Skor Armenia vs Latvia di UNL, 25 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Tanpa Kemenangan?
- 6Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di UNL, 26 September 2026: Mampukah The Brave Falcons Lanjutkan Tren Positif?
- 7Prediksi Skor Andorra vs Malta di UNL, 24 September 2026: Mampukah Tim Tamu Pertahankan Rekor Tak Terkalahkan?
- 8Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg di UNL, 26 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Amankan Kemenangan Perdana?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!

