Jakarta

Tradisi Tato di Masyarakat Mentawai: Bertumbuh Sejak Pertama Kali Mereka Menghuni Pulau, Bukan Untuk Gaya-gayaan, Melainkan Bagian dari Identitas Diri

Fikri Hidayatulloh | 17 April 2024, 17:56 WIB
Tradisi Tato di Masyarakat Mentawai: Bertumbuh Sejak Pertama Kali Mereka Menghuni Pulau, Bukan Untuk Gaya-gayaan, Melainkan Bagian dari Identitas Diri

AKURAT JAKARTA - Mentawai menjadi perbincangan netizen Indonesia setelah Vokalis band rock Red Hot Chili Peppers, Anthony Kiedis, ketahuan sedang berlibur di kepulauan yang memiliki salah satu ombak terbaik dunia.

Dalam foto yang dibagikan akun Instagram Red Hot Chili Peppers, Anthony Kiedis memperlihatkan sedang asyik bercengkerama dengan beberapa masyarakat adat Kepulauan Mentawai.

Anthony Kiedis dan dua masyarakat adat Mentawai tanpa segan-segan bertelanjang dada, memamerkan rajahan-rajahan tato di badan mereka.

Baca Juga: Inilah Tanggapan Keluarga Lettu Agam Terkait Dugaan Perselingkuhan

Foto Anthony Kiedis berlibur di Mentawai ini pun viral di jejaring sosial X dan kata 'Mentawai' pun menduduki trending topik bersama Red Hot Chili Peppers.

Bagi masyarakat Mentawai, tato merupakan bagian dari identitas diri yang sudah menjadi tradisi.

Kajian Semiotik dan Mitologis terhadap Tato Masyarakat Tradisional Kepulauan Mentawai (2001) mengungkap tradisi tato sudah bertumbuh sejak pertama kali mereka mendiami Kepulauan Mentawai.

Baca Juga: KPK Ajukan Surat Cegah ke Dirjen Imigrasi, Bupati Sidoarjo Dilarang ke Luar Negeri hingga 6 Bulan ke Depan

Umumnya bahah dan alat pembuatan tato tradisional Mentawai diperoleh dari alam sekitar, kecuali jarum untuk merajah kulit yang diperoleh dari 'orang tepi'.

Orang tepi merupakan sebutan masyarakat Mentawai kepada pendatang.

Sebelum mengenal jarum, alat tradisional menato tubuh bagi masyarakat Mentawai adalah kayu karai (tumbuhan asli Mentawai) yang bagian ujungnya diruncingkan.

Baca Juga: Konser Sheila On 7 Bertajuk Tunggu Aku Di, Ini Harapan Personil Band Jangan Ketinggalan

Adapun zat warna dan obat penawar rasa sakit diracik sendiri.

Obat penawar rasa sakit diambil dari abu hasil pembakaran kayu, tempurung, dan daun pisang kering yang dibalurkan pada tubuh yang baru selesai dirajah.

Sementara, zat warna berasal dari racikan arang tempurung kelapa dengan air tebu atau campuran abu daun pisang dengan air tebu.

Baca Juga: 4 Destinasi Wisata di Mentawai Yang Patut Kamu Kunjungi, Kiedis Sudah Ke Sini Belum Ya?

Sebelum orang Mentawai merajah tubuhnya dengan tato, terlebih dulu diadakan upacara penatoan yang disebut punen patiti di purukat yang terdapat di uma.

Purakat adalah tempat menari, sementara uma adalah rumah.

Punen patiti dipimpin oleh seorang Sikerei (dukun) dan diselenggarakan cukup satu kali di awal penatoan.

Baca Juga: Resep Capcay Istimewa, Dibuat di Rumah Nikmat dan Menyehatkan Lho

Biasanya, upah yang diberikan pada sipatiti (tukang tato) adalah seekor babi.

Bila ada tiga orang sipatiti yang menato, babi akan dibagi tiga. Sehingga, masing-masing sipatiti mendapat sepertiga bagian.

Proses pembuatan tato dilakukan. Tahap pertama, sejak seseorang berusia menjelang dewasa atau 11-12 tahun, akan ditato pada bagian pangkal lengan.

Baca Juga: Tradisi Lebaran Ketupat di H+7 Lebaran, Bagaimana Sejarah dan Makna Filosofisnya?

Tahap kedua adalah penatoan pada usia 18-19 tahun di paha.

Tato yang akan dirajahkan ke tubuh juga bukan gambar acak, tapi harus dipola dengan simbol kesukuan.

Garis-garis yang dihasilkan pada waktu pembuatan pola biasanya disesuaikan dengan irama rangkaian tulang (dada ataupun punggung).

Baca Juga: Jangan Bingung! Berikut Ini Cara Perpanjang SIM via Online Maupun Offline

Motif utama tato masyarakat Mentawai adalah motif durukat, lokpok, dapdap, atau pulaigiania.

Motif-motif tersebut harus ada pada seriap orang Mentawai karena bagian dari simbol, jati diri individu dan jati diri suku.*


Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.