Krisis Uang Tunai, Gaji PNS di Sudan Selatan Nunggak 9 Bulan

AKURAT JAKARTA — Sudan Selatan alami krisis uang tunai yang sangat parah.
Dampaknya bank-bank kehabisan uang, gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) menunggak hingga sembilan bulan, dan pembangunan jalan serta infrastruktur terhenti.
Presiden Salva Kiir menyampaikan bahwa pemerintah sedang berusaha keras mencari jalan keluar agar roda pemerintahan tetap berjalan dan masyarakat tidak hilang kepercayaan.
Baca Juga: Mabuk dan Berbuat Tak Senonoh di Depan Rumah Warga, WNA Australia Ditangkap
Gaji Tak Dibayar Berbulan-bulan dan Pemilu Terancam Masalah
Kondisi ini jelas membuat para pegawai negara menjerit.
Anggota DPR setempat bahkan menyebutkan ada beberapa pejabat dan anggota legislatif yang belum menerima gaji selama dua tahun.
Krisis keuangan ini juga mengancam rencana Pemilihan Umum (Pemilu) yang dijadwalkan pada 22 Desember 2026 mendatang.
Hal ini lantaran dana pemerintah alami kemacetan yang membuat persiapan logistik pemilu jadi terhambat.
Imbas krisis tersebut, kantor kedutaan Sudan Selatan di luar negeri harus memotong jam kerja karena kekurangan biaya operasional.
Untuk mengatasi masalah ini, Bank Sentral Sudan Selatan mengumpulkan bank-bank swasta.
Fokus utamanya adalah memastikan masyarakat kecil masih bisa mengambil uang tabungan mereka di bank.
Menurut ekonom Daniel Athior Atem Manyuon, salah satu penyebab utamanya adalah masyarakat lebih memilih menyimpan uang tunai di rumah daripada di bank.
Akibatnya, uang tidak berputar di dalam sistem perbankan resmi dan Bank Sentral kesulitan mengendalikan roda ekonomi.
Terlalu Bergantung pada Minyak dan Perang Tetangga
Laporan Bank Dunia menyebutkan bahwa ekonomi Sudan Selatan sangat rapuh karena terlalu bergantung pada penjualan minyak bumi.
Keadaan makin parah akibat beberapa faktor utamanya adalah Perang di negara tetangga (Sudan) yang mengganggu pipa saluran ekspor minyak Sudan Selatan.
Serta beberapa gabungan masalah ekonomi seperti tata kelola keuangan dan anggaran negara yang masih lemah
Dan pengelolaan pendapatan negara yang belum transparan dan efisien. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Aston Villa vs Brentford di Premier League, 10 Oktober 2026: Rekor Tak Terkalahkan The Bees Diuji Unai Emery
- 2Prediksi Skor Sunderland vs Brighton di Premier League, 10 Oktober 2026: Akankah Peforma Apik The Seagulls Tambah Derita Tuan Rumah?
- 3Prediksi Skor Hoffenheim vs Hamburger SV di Bundesliga, 10 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Dua Tim yang Terluka
- 4Prediksi Skor Ipswich Town vs Fulham di Premier League, Sabtu 10 Oktober 2026: Mampukah The Tractor Boys Memutus Rekor Buruk?
- 5Prediksi Skor Mainz 05 vs Bayer Leverkusen di Bundesliga, 10 Oktober 2026: Duel Sengit di Mewa Arena
- 6Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Athletic Bilbao di La Liga, 10 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Rekor Buruk?
- 7Prediksi Skor Genoa vs Fiorentina di Serie A, 10 Oktober 2026: Mampukah Rossoblu Mengakhiri Tren Buruk di Kandang?
- 8Prediksi Skor Augsburg vs Bayern Munich di Bundesliga, 10 Oktober 2026: Akankah Tuan Rumah kembali Kejutkan Die Roten?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!


