Evaluasi Dua Tahun Prabowo-Gibran Harus Dilihat dari Konsistensi Gagasan dan Implementasi Kebijakan

AKURAT JAKARTA – Direktur Eksekutif Indeks Data Nasional, Ayip Tayana, menyoroti terkait evaluasi terhadap dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Menurutnya evaluasi perlu dilakukan dengan menelusuri konsistensi antara gagasan yang telah dibangun Prabowo sebelum menjabat dan implementasinya dalam kebijakan pemerintahan.
Pandangan tersebut disampaikan Ayip dalam diskusi publik bertajuk "Catatan Dua Tahun Prabowo-Gibran: Capaian, Refleksi, dan Evaluasi" yang diselenggarakan oleh Siasat Channel dan Tani Merdeka Indonesia bekerja sama dengan konsultan politik Indeks Data Nasional di kawasan Jakarta Selatan, Senin (19/10/2026)
Menurut Ayip, salah satu cara untuk mengukur capaian pemerintahan Prabowo adalah dengan melihat sejauh mana gagasan yang tertuang dalam buku Paradoks Indonesia diwujudkan melalui kebijakan konkret.
Baginya, evaluasi pemerintahan tidak cukup hanya melihat program-program yang sedang berjalan, tetapi juga perlu menelaah pemikiran mendasar yang menjadi landasan kepemimpinannya.
"Indikator untuk melakukan refleksi dan evaluasi pemerintahan sebenarnya cukup mudah, yaitu dengan melihat apakah Prabowo melaksanakan gagasan-gagasannya yang telah ia pikirkan sejak sebelum menjadi presiden," ujar Ayip.
Ia menjelaskan, buku Paradoks Indonesia menjadi salah satu rujukan penting untuk memahami kegelisahan Prabowo mengenai kondisi bangsa, khususnya mengenai paradoks antara kekayaan sumber daya Indonesia dan kondisi masyarakatnya.
"Ada satu kalimat menarik dalam buku Paradoks Indonesia: negara kaya, tetapi masyarakatnya biasa saja," kata Ayip.
Menurut dia, kegelisahan tersebut bukan semata-mata persoalan personal, melainkan berkaitan dengan persoalan nyata yang dirasakan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, pemikiran tersebut dapat menjadi titik awal untuk menilai arah kebijakan pemerintahan sekaligus mengukur konsistensi antara gagasan dan pelaksanaannya.
Ayip kemudian menempatkan Asta Cita sebagai penghubung antara pemikiran Prabowo dan implementasi kebijakan pemerintah. Dalam pandangannya, agenda tersebut dapat dipahami sebagai jembatan yang menghubungkan gagasan dalam buku-buku Prabowo dengan langkah kebijakan konkret saat memimpin pemerintahan.
"Asta Cita ibarat jembatan antara gagasan Prabowo yang ada di bukunya dan implementasinya dalam bentuk kebijakan," ujarnya.
Dengan kerangka tersebut, evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dapat diarahkan pada pertanyaan mendasar: sejauh mana kebijakan yang telah dijalankan selaras dengan gagasan yang sebelumnya ditawarkan, serta bagaimana implementasi gagasan itu menjawab persoalan masyarakat.
Di akhir penyampaiannya, Ayip mengajak masyarakat membaca karya-karya Prabowo sebagai salah satu cara memahami arah pemikiran dan kebijakan pemerintah. Ia menyebut tiga buku yang penting untuk dibaca, yakni Paradoks Indonesia, Strategi Transformasi Bangsa, dan Indonesia Menang.
"Jika teman-teman ingin memahami apa yang dilakukan pemerintah hari ini, ada tiga buku yang perlu dibaca: Paradoks Indonesia, Strategi Transformasi Bangsa, dan Indonesia Menang. Itu perlu dilakukan agar kita tidak salah paham, memahami arah kebijakan pemerintah, dan mengetahui kapan harus menagih janji pemerintah," tutur Ayip.
Pengamat Soroti Perubahan Peran Negara dalam Ekonomi
Sementara itu, Direktur Riset Kebijakan Publik Infast Bestari, Muhammad Ridha, menyoroti perubahan peran negara dalam dinamika ekonomi-politik Indonesia. Menurutnya, Indonesia sedang berada dalam masa transisi ketika peran negara dalam perekonomian mengalami perubahan.
"Negara sedang dalam transisi peralihan ekonomi-politik. Mulanya kekuatan ekonomi dikuasai pasar, dan hari ini negara sedang mencoba mengambil perannya," ujar Ridha.
Pernyataan tersebut menambah perspektif dalam diskusi mengenai arah pembangunan nasional, khususnya terkait hubungan antara negara, pasar, dan pelaksanaan kebijakan ekonomi serta dampaknya terhadap masyarakat.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Fulham vs Hull City di Premier League, 17 Oktober 2026: Mampukah The Cottagers Mengakhiri Tren Buruk?
- 2Prediksi Skor Newcastle United vs Aston Villa di Premier League, 17 Oktober 2026: Duel Kontras di St James' Park
- 3Prediksi Skor Getafe vs Rayo Vallecano di La Liga, 20 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Memutus Rekor Buruk?
- 4Prediksi Skor AC Monza vs Cagliari di Serie A, 19 Oktober 2026: Tuan Rumah Terancam oleh Ketangguhan Rossoblu
- 5Prediksi Skor Parma vs Torino di Serie A, 20 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Tuan Rumah di Tengah Ancaman Granata
- 6Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Coventry City di Premier League, 20 Oktober 2026: Mampukah Spurs Akhiri Paceklik Kemenangan?
- 7Prediksi Skor Hamburger SV vs Stuttgart di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Momentum Positif Jadi Modal Kedua Tim
- 8Prediksi Skor Espanyol vs Atletico Madrid di La Liga, 17 Oktober 2026: Misi Tuan Rumah Hentikan Tren Kemenangan Los Colchoneros
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





