Jakarta

Busa Putih Kembali Menumpuk di Pintu Weir 3 BKT Jakarta Utara, Dinas LH DKI Lakukan Simulasi Penanggulangan dengan 2 Metode Ini

Yasmina Nuha | 14 Agustus 2025, 11:37 WIB
Busa Putih Kembali Menumpuk di Pintu Weir 3 BKT Jakarta Utara, Dinas LH DKI Lakukan Simulasi Penanggulangan dengan 2 Metode Ini

AKURAT JAKARTA – Tumpukan busa putih kembali muncul di Pintu Weir 3 Banjir Kanal Timur (BKT) Jakarta Utara, Rabu 13 Agustus 2025.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta bersama sejumlah instansi pun menggelar simulasi penanggulangan dengan dua metode.

Dua metode tersebut yaitu penyemprotan bertekanan tinggi dan pelepasan mikroba untuk mengurai pencemar organik penyebab busa.

Baca Juga: Warga Malang Merapat! Konser For Revenge dan Rebellion Rose Digelar Jumat Besok di SM Boomi Carnival, Rangkaian Serana dan Samudra Tour 2025

Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengatakan bahwa hasil simulasi ini akan menjadi acuan penyusunan SOP di 13 sungai Jakarta.

"Penanganan busa harus menjadi bagian dari program pemulihan kualitas air jangka panjang yang terintegrasi," ujar Asep dalam keterangannya, dikutip Kamis (14/8/2025).

Menurutnya, pencegahan di sumber pencemar lebih penting dibanding penanganan di hilir. Pengawasan bakal difokuskan pada pelaku usaha, terutama skala kecil.

Para pelaku usaha tersebut wajib memiliki Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) dan mengelola limbah cair sesuai aturan.

Sementara itu, Analis Lingkungan DLH DKI Jakarta, Ria Triany, menerangkan bahwa busa terbentuk akibat tingginya kadar bahan organik (BOD, COD) dan surfaktan sintetis dari limbah rumah tangga maupun usaha yang belum terolah optimal.

"Turbulensi di pintu air memicu pembentukan busa. Mikroba yang digunakan dalam simulasi diharapkan mampu menguraikan polutan secara biologis atau biodegradasi," jelas Ria.

Baca Juga: Prediksi Skor Shakhtar Donetsk vs Panathinaikos di Kualifikasi UEL, 15 Agustus 2025: Adu Ketajaman Demi Tiket Playoff

Dalam uji coba, DLH menggunakan 10 ribu liter air tawar untuk penyemprotan fisik dari darat dan air, serta 2.500 liter air yang dicampur 4 liter cairan mikroorganisme efektif untuk degradasi polutan.

"Penyemprotan dilakukan dengan berbagai tipe pancaran, ukuran nozzle, dan lokasi berbeda,” tutur M. Tasor, Kepala Seksi Operasi Kebakaran Dinas Penanggulangan Kebakaran (Gulkarmat) DKI Jakarta. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.