Jakarta

Cerita Dirut Welfizon Soal Perjalanan Transjakarta: Dari Sistem Busway Konvensional Menuju Smart Mobility

Yasmina Nuha | 5 November 2025, 05:01 WIB
Cerita Dirut Welfizon Soal Perjalanan Transjakarta: Dari Sistem Busway Konvensional Menuju Smart Mobility

AKURAT JAKARTA - PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) terus bertransformasi menuju layanan transportasi publik yang cerdas, inklusif dan berorientasi pada warga.

Direktur Utama (Dirut) PT Transjakarta, Welfizon Yuza, memaparkan perjalanan panjang perusahaan dari sistem busway konvensional menuju ekosistem smart mobility.

Hal itu diungkapkan Welfizon dalam forum Balkoters Talk bertajuk 'Smart Mobility: Evolusi Transjakarta untuk Jakarta 5 Abad' di Pressroom Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (4/11/2025).

Baca Juga: Anggota DPRD dari Golkar Andri Santosa Serap Empat Aspirasi Krusial Warga Kalideres Jakbar

Turut hadir Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Muhammad Taufik Zoelkifli dan Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta Susilo Dewanto.

Welfizon mengatakan, perubahan besar Transjakarta terjadi sejak 2015 ketika lembaga ini bertransformasi dari Unit Pelaksana Teknis menjadi Perseroan Terbatas (PT).

Sejak itu, arah perusahaan tak lagi hanya berbasis pada operasional bus, melainkan pada pelayanan warga.

Baca Juga: Presiden Prabowo Tegaskan Siap Bertanggung Jawab Penuh Atas Proyek Whoosh

"Kalau dulu itu (perspektifnya) operasional driven, jadi layanan didorong dari sisi operasional. Tapi sejak tahun 2016, kami ubah polanya bukan didorong dari sisi operasional, tapi ditarik dari sisi customer (pelanggan)," ujar Welfizon.

Ia melanjutkan, transformasi budaya pelayanan dimulai dari cara perusahaan memandang pengguna jasa.

Dulu yang naik Transjakarta itu disebut penumpang, namun jika dilihat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penumpang itu artinya ‘numpang’, ‘nebeng gratisan’.

Istilah itu kemudian diubah, karena penumpang terkesan dapat tidak dengan kurang baik.

"Sejak kami berubah menjadi customer driven, sekarang kami mereka disebut pelanggan. Istilahnya mulai dari direksi sampai petugas di lapangan semua menyebut pelanggan, jadi enggak ada lagi istilah penumpang," jelasnya.

Menurutnya, perubahan paradigma itu mengubah seluruh orientasi internal Transjakarta.

Dari rapat operasional harian yang semula berfokus pada jumlah bus yang beroperasi, kini menjadi berapa banyak pelanggan yang dilayani.

Dengan paradigma baru itu, pertumbuhan layanan Transjakarta meningkat signifikan. Hingga kini, jangkauan layanan telah mencapai 91,8 persen wilayah Jakarta, ekuivalen dengan akses 9 dari 10 warga dapat menjangkau halte Transjakarta.

"Jadi 9 dari 10 warga Jakarta jalan kaki 5-10 menit ke arah mana pun pasti ketemu halte atau bus stop," ujar Welfizon.

Transformasi tersebut, kata Welfizon, bukan hanya perubahan istilah, tetapi perubahan paradigma besar di tubuh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang kini menjadi tulang punggung transportasi Kota Jakarta. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yasmina Nuha
Y