Jakarta

Sejarah Pemilu Pertama Tahun 1955, Ketika Bung Karno Antri untuk Mencoblos

Muchammad Awan Wicaksono | 13 Februari 2024, 12:25 WIB
Sejarah Pemilu Pertama Tahun 1955, Ketika Bung Karno Antri untuk Mencoblos

AKURAT.CO - Dalam sejarah Indonesia, Pemilihan Umum (Pemilu) diselenggarakan pertama kali tahun 1955.

Saat itu, Pemilu dilaksanakan di era kabinet Burhanuddin Harahap.

Saat itu banyak sekali kontestan dengan 29 partai politik dan individu.

Ada hal unik ketika Pemilu 1955, yakni Presiden Soekarno yang antri ketika akan mencoblos.

Baca Juga: Sempat Dilarang Orde Baru, Begini Sejarah Dinamika Perayaan Imlek di Indonesia

Selain itu, Perdana Menteri Burhanuddin Harahap juga harus mengantri selama setengah jam.

Wakil Presiden Mohammad Hatta dan mantan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo juga ikut antri ketika akan mencoblos.

Dalam buku Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967 karangan Mangil Martowidjojo, Bung Karno mencoblos di tempat pemungutan suara (TPS) yang ada di depan halaman kantor Kementerian Penerangan.

Kantor tersebut berada di Jalan Merdeka Barat yang kini jadi kantor Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo).

Baca Juga: Sejarah Perayaan Tahun Baru Imlek, Berikut Penjelasannya!

Saat itu, hampir semua penghuni istana ikut mencoblos di TPS tersebut.

Pada saat itu, Presiden Soekarno ingin bertemu langsung dengan masyarakat sekaligus ikut andil dalam pemilu.

Bung Karno jalan kaki dari istana dan mengantri, seperti layaknya orang yang akan mencoblos.

Meski menjabat sebagai presiden pertama Indonesia, Soekarno tak meminta keistimewaan. Hal itu terbukti ketika ia antri dari belakang.

Baca Juga: Sejarah Isra Miraj, Perjalanan Nabi Muhammad SAW ke Langit ke-7 yang Sempat Diejek Kaum Quraisy

Bahkan meski panitia TPS sudah meminta Bung Karno untuk didahulukan. Namun, ayah dari Megawati Soekarnoputri tersebut tetap mengantri.

Adapun hasil dari Pemilu pertama tahun 1955 itu dimenangkan oleh Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan 8,4 juta suara.

Di Urutan kedua ada Masyumi (7,9 juta suara), lalu Nahdlatul Ulama (6,9 juta suara) dan Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan 6,1 juta suara.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.