Jakarta

Bukan Curah Hujan, Ini Penyebab Utama Bencana Banjir Rob di Jakarta Utara, Pemprov Bilang Begini

Ainun Kusumaningrum | 18 Desember 2024, 07:03 WIB
Bukan Curah Hujan, Ini Penyebab Utama Bencana Banjir Rob di Jakarta Utara, Pemprov Bilang Begini

AKURAT JAKARTA  - Bukan Curah Hujan, Ini Penyebab Utama Bencana Banjir Rob di Jakarta Utara, Pemprov Bilang Begini

Salah satu penyebab banjir rob asalah proyek pembangunan tanggul pantai yang dirancang untuk menahan masuknya air laut ke daratan, belum selesai.

Penjabat Gubernur Provinsi DKI Jakarta Teguh Setyabudi mengatakan, area-area yang belum terbangun tanggul pantai terkena rob.

Baca Juga: Banjir Rob di Jakarta Utara Mulai Surut, Waspadai Dampak Penurunan Tanah dan Kenaikan Permukaan Air Laut

"Jadi, kalau tanggul belum terbangun, rob pasti masuk," kata dia.

Teguh menyatakan, saat ini terdapat total 39 kilometer (km) tanggul yang direncanakan untuk dibangun.

Namun, proyek pembangunan tanggul ini baru terealisasikan sepanjang 22,9 km. Artinya, masih ada 16,1 km lagi yang belum selesai dibangun.

Baca Juga: Instansi dan Dinas di Pemprov DKI Bahu Membahu Tangani Banjir Rob di Penjaringan Jakarta Utara, dari Beri Bantuan Korban hingga Sediakan Perahu Karet

Teguh menjelaskan, proyek pembangunan tanggul adalah kerja sama antar Kementerian Pekerja Umum (PU) dibantu oleh Pemprov Jakarta.

"Pastinya kami juga bersama-sama dengan Kementerian PU untuk mencoba menyelesaikannya dan untuk saat ini, yang bisa kita lakukan adalah bagaimana pada saat rob itu terjadi, kami tidak berdiam diri," kata Teguh.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Ika Agustin mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan progres pembangunan tanggul molor dari target 2028.

Menueur dia, faktor penghambat pertama adalah kendala pengadaan barang dan jasa terkait proyek pembangunan.

Kedua, pemerintah membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan desain pembangunan tanggul, juga mengakomodasi kebutuhan para nelayan dalam menambatkan kapalnya.

Pihaknya harus bisa memastikan tambatan kapal di area tanggul tidak menghalangi alur pelayaran. Selain itu, perlu ada koordinasi dengan nelayan terkait penyediaan area penempatan ikan hasil tangkapan.

Sebelumnya, tanggul pantai sepanjang 39 kilometer ditargetkan selesai dibangun pada 2028. Kini, target tersebut mundur menjadi 2030.

"Sehingga kita perlu waktu untuk mengkoordinasikan itu semua, sehingga targetnya agak sedikit mundur sampai 2030," kata Ika.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.