Jakarta

BMKG Prediksi Panas Ekstrem di Jakarta Capai 35 Derajat, Gubernur Pramono Bantah: Terpantau Masih Normal

Yasmina Nuha | 15 Oktober 2025, 21:36 WIB
BMKG Prediksi Panas Ekstrem di Jakarta Capai 35 Derajat, Gubernur Pramono Bantah: Terpantau Masih Normal

AKURAT JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat cuaca panas ekstrem melanda kawasan Jakarta beberapa hari terakhir. Bahkan suhu udara diprakirakan mencapai 35 derajat celsius.

Menanggapi fenomena ini, Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menilai bahwa justru cuaca panas di Jakarta tidak seperti yang diperkirakan. Menurutnya, hingga saat ini kondisi udara di Jakarta terpantau masih normal.

"Jadi, Jakarta sampai hari ini tidak seperti yang dilaporkan akan mengalami udara panas, karena udara di Jakarta sekarang ini terpantau masih normal," kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (15/10/2025).

Baca Juga: Pemprov DKI Sepakat dengan Danantara Bangun PLTSa, Pramono Yakin Infrastruktur Lebih Siap Dibanding Daerah Lain

Ia menjelaskan, usai dirinya mendapatkan informasi terkait cuaca panas ekstrem tersebut, dirinya pun berkoordinasi bersama dengan BMKG.

Melalui koordinasi itu, BMKG menyampaikan bahwa kondisi cuaca panas ekstrem tersebut tidak terjadi dan bahkan terdapat curah hujan menengah di Jakarta beberapa hari ke depan.

"Kenapa saya sampaikan ini? Ketika saya mendapatkan berita ini, saya berkoordinasi dengan BMKG dan BMKG menyampaikan bahkan dua, tiga, empat hari ke depan ini Jakarta curah hujannya adalah medium, menengah," katanya.

Baca Juga: Laporan di JAKI Sering Mandek, Legislator Golkar Ingatkan Pemprov Agar Program Lama Tetap Diperhatikan

Dengan itu, mantan Sekretaris Kabinet RI itu pun berharap agar cuaca panas ekstrem tidak terjadi di Jakarta dan warga Jakarta dapat bahagia.

"Sehingga dengan demikian, mudah-mudahan Jakarta tidak ada hawa panas. Yang penting Jakarta bahagia, hatinya enggak panas lah gitu," harapnya.

Diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, fenomena suhu tinggi yang dirasakan masyarakat saat ini disebabkan oleh beberapa faktor utama.

Faktor pertama adalah pergeseran semu Matahari ke selatan Indonesia, yang menyebabkan peningkatan intensitas radiasi matahari di wilayah Indonesia bagian selatan.

Selain itu, minimnya tutupan awan membuat sinar Matahari langsung menyentuh permukaan Bumi tanpa banyak hambatan.

"Masa pancaroba, yaitu peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, yang biasanya ditandai dengan suhu udara yang tinggi dan cuaca yang tidak menentu," ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto dalam keterangannya. (*)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yasmina Nuha
Y