Jakarta

Dinkes DKI Catat Kasus DBD Jakarta Naik di Awal 2026 Capai 143, Ini Penyebabnya

Yasmina Nuha | 21 Januari 2026, 20:25 WIB
Dinkes DKI Catat Kasus DBD Jakarta Naik di Awal 2026 Capai 143, Ini Penyebabnya

AKURAT JAKARTA - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mencatat kenaikan jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Ibu Kota pada awal tahun 2026 telah mencapai 143 kasus. Data tersebut dihimpun hingga 19 Januari 2026.

"Update data kasus Tahun 2026 sampai tanggal 19 Januari sebanyak 143 kasus," ujar Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (21/1/2026).

Ia menyebutkan bahwa secara tren mingguan telah terlihat adanya peningkatan kasus jika dibandingkan dengan akhir tahun sebelumnya.

Baca Juga: Transjakarta Perluas Layanan Rute 2B Harapan Indah–Pulo Gadung, Tambah Titik Pemberhentian Strategis

"Kalau dilihat tren mingguan, terjadi kenaikan kasus dari minggu ke-53 tahun 2025 sebanyak 69 kasus menjadi 83 kasus pada minggu pertama tahun 2026," ujarnya.

Meski demikian, Ani menegaskan bahwa peningkatan kasus DBD pada Januari 2026 masih belum setinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama pada Januari 2025.

"Walaupun ada kenaikan, angkanya masih lebih rendah dibandingkan Januari tahun lalu," katanya.

Ani menjelaskan, musim hujan menjadi salah satu faktor utama meningkatnya potensi penyebaran DBD.

Baca Juga: Meski APBD DKI 2026 Menyusut, Gubernur Pramono Pastikan Layanan Publik dan Subsidi Tetap Aman

Tingginya curah hujan yang disertai pengelolaan sampah yang kurang optimal serta keberadaan tanaman hias tertentu dapat memicu terbentuknya banyak tempat penampungan air.

"Kondisi tersebut sangat memungkinkan nyamuk Aedes aegypti berkembang biak, sehingga populasi nyamuk meningkat," jelasnya.

Untuk menekan angka kasus DBD, Dinkes DKI Jakarta bersama puskesmas terus melakukan berbagai upaya pencegahan.

Salah satunya dengan mengintensifkan sosialisasi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat-tempat yang berpotensi menampung air.

Selain itu, Dinkes juga menggandeng aparat wilayah, mulai dari lurah hingga camat, untuk melakukan monitoring rutin pelaksanaan PSN di lingkungan masyarakat bersama para Jumantik.

"Kami juga meningkatkan intensitas pemantauan jentik menjadi dua kali seminggu oleh Jumantik," pungkas Ani. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yasmina Nuha
Y