Serapan APBD 2026 Tertinggi Lima Tahun Capai 13,97 Persen, Pemprov DKI Akui Arus Kas Malah Tertekan

AKURAT JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mencatat realisasi belanja daerah pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) triwulan I 2026 mencapai 13,97 persen, tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Namun, di balik capaian tersebut, Pemprov mengakui adanya tekanan pada arus kas akibat laju belanja yang melampaui pendapatan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) DKI Jakarta, Michael Rolandi, dalam Konferensi Pers APBD Triwulan I 2026 di Balairung, Balai Kota Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Ia mengatakan, percepatan penyerapan anggaran terjadi karena pengesahan APBD 2026 dilakukan tepat waktu. Dengan demikian, operasional kegiatan sudah bisa berjalan sejak awal tahun.
"Perda APBD dan Pergub penjabaran sudah disahkan pada 23 Desember. Artinya kami pada 2 Januari sudah bisa bergerak melakukan operasional kegiatan di pemda," ujar
Ia menjelaskan, percepatan tersebut berdampak langsung pada peningkatan serapan anggaran di awal tahun.
Realisasi belanja triwulan I 2026 sebesar 13,97 persen melampaui capaian tahun-tahun sebelumnya, yakni 9,96 persen pada 2022, 9,86 persen pada 2023, 10,31 persen pada 2024, dan 13,19 persen pada 2025.
Namun demikian, tingginya realisasi belanja tidak diimbangi dengan pendapatan daerah. Hingga triwulan I, pendapatan baru terealisasi sebesar 13,39 persen.
"Akibatnya kami di sektor keuangan terpental-pental. Realisasi pendapatan 13,39 persen, belanjanya 13,97 persen. Jadi kami harus putar otak bagaimana cash flow itu bisa dijaga," kata Michael.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari strategi percepatan belanja yang didorong oleh Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung-Rano Karno, terutama dalam pengadaan barang dan jasa di awal tahun.
Meski memberi tekanan pada arus kas jangka pendek, Pemprov menilai pola ini lebih sehat dibandingkan kebiasaan lama, di mana belanja menumpuk di akhir tahun atau dikenal sebagai pola "stick hockey".
Michael optimistis, dengan tren saat ini, pola penyerapan anggaran akan berubah menjadi lebih merata sepanjang tahun atau membentuk kurva S.
"Saya yakin tahun ini kalau kondisinya seperti ini tidak lagi menjadi stick hockey, tetapi merupakan kurva S pencapaian yang bisa kita lakukan. Ini adalah perubahan yang menurut saya signifikan," tukasnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





