Jakarta

Penjelasan Kenapa Idul Adha di Indonesia Ada yang Minggu dan Senin

Yudi Permana | 16 Juni 2024, 10:22 WIB
Penjelasan Kenapa Idul Adha di Indonesia Ada yang Minggu dan Senin

JAKARTA AKURAT-Sebagian umat Islam di Indonesia ada yang merayakan Idul Adha pada Minggu (16/6/2024). Tapi ada juga yang dilangsungkan Senin (17/6/2024).

Perbedaan perayaan Idul Adha tahun ini tentu menimbulkan pertanyaan. Lebih-lebih Arab Saudi memutuskan peringatan Idul Adha dilangsungkan Minggu.

Sedangkan pemerintah Indonesia dan salah satu ormas Islam terbesar tanah air memutuskan peringatan Idul Adha pada Senin.

Kenapa Idul Adha di Indonesia Ada yang Minggu dan Senin

Ternyata perbedaan peringatan tersebut adalah wujud keyakinan umat Islam di Indonesia dalam memutuskan hari raya Idul Adha.

Bagi yang menjalankan Idul Adha pada Minggu, mereka mengikuti apa yang ditetapkan oleh Pemerintah Arab Saudi.

Muhammadiyah sendiri juga membuat penjelasan terkait kenapa tahun ini perayaan Idul Adha berbeda dengan pemerintah Arab Saudi.

Rupanya penyebab utama perbedaan ini terletak pada metode penentuan awal bulan kamariah yang digunakan oleh masing-masing pihak, yakni Wujudul Hilal dan Rukyatul Hilal.

Dikutip dari muhammadiyah.or.id, wujudul hilal adalah metode yang digunakan oleh Muhammadiyah saat ini untuk menentukan awal bulan kamariah. Menurut metode ini, bulan kamariah baru dimulai apabila pada hari ke-29 bulan berjalan, saat matahari terbenam, terpenuhi tiga syarat secara kumulatif:

Pertama, telah terjadi konjungsi (ijtimak); kedua, konjungsi terjadi sebelum matahari terbenam; dan ketiga, pada saat matahari terbenam, bulan (piringan atasnya) masih di atas ufuk. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka umur bulan digenapkan menjadi 30 hari.

Pada 6 Juni 2024, yang bertepatan dengan 29 Zulqa’dah 1445 H menurut kalender Muhammadiyah, konjungsi belum terjadi ketika maghrib tiba. Konjungsi baru terjadi pada pukul 19.04 wib, sehingga syarat untuk memulai bulan baru tidak terpenuhi.

Oleh karena itu, Muhammadiyah menggenapkan bulan Zulqa’dah menjadi 30 hari. Dengan demikian, 1 Zulhijah 1445 H ditetapkan pada Sabtu, 8 Juni 2024, sehingga Idul Adha jatuh pada Senin, 17 Juni 2024.

Baca Juga: Pecinta Sepak Bola Wajib Tahu! Begini Tips Memilih Jersey yang Tepat

Di sisi lain, rukyatul hilal adalah metode yang mengandalkan pemantauan hilal (bulan sabit pertama) secara visual saat matahari terbenam pada tanggal 29 bulan kamariah. Rukyat dilakukan hanya jika telah terjadi konjungsi bulan-matahari dan pada saat matahari terbenam, hilal berada di atas ufuk dan dalam posisi yang memungkinkan untuk terlihat.

Jika pada tanggal tersebut hilal tidak terlihat, baik karena faktor cuaca atau memang hilal belum tampak, maka bulan kamariah digenapkan menjadi 30 hari.

Pemerintah Arab Saudi, yang menggunakan metode rukyatul hilal, mengumumkan bahwa hilal berhasil terlihat pada maghrib 6 Juni 2024. Dengan penampakan hilal ini, mereka menetapkan bahwa Jumat, 7 Juni 2024, adalah awal Zulhijah 1445 H. Berdasarkan keputusan ini, Idul Adha dirayakan pada Ahad, 16 Juni 2024.

Perbedaan letak Arab dan Indonesia

Sementara itu, pemerintah Indonesia dan Nahdlatul Ulama menentukan awal bulan hijriah berdasarkan pengamatan dengan kriteria MABIMS (kesepakatan Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Thomas Djamaluddin, profesor bidang ilmu astronomi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menuturkan pada magrib 6 Juni posisi hilal di Mekkah, Arab Saudi, sangat rendah.

"Tingginya kurang dari 1 derajat. Mestinya tidak mungkin terlihat, karena posisinya terlalu dekat Matahari dan cahaya syafak (senja) masih cukup kuat," dia menjelaskan melalui akun Facebook, dikutip dari CNN Indonesia.

Di sisi lain, Thomas menyebut pada magrib 7 Juni 2024 posisi hilal cukup tinggi, dengan posisi Bulan sudah 8 derajat.

"Dari rukyat di Mekkah dan Jakarta, diprakirakan 1 Zulhijah 1445 8 Juni, wukuf 16 Juni, dan Idul Adha 17 Juni," ia menuturkan.

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama, Adib, mengungkapkan perbedaan waktu Idul Adha di Indonesia dan Arab disebabkan perbedaan letak.

Baca Juga: Bener Nggak Sih Pakai Jersey Bisa Bikin Bau Badan?

Arab Saudi terletal lebih barat dari Indonesia. Alhasil, kemungkinan hilal terlihat lebih dahulu di sana.

"Waktu di Indonesia lebih cepat 4 jam, tetapi hilal justru mungkin terlihat lebih dahulu di Arab Saudi, karena terlihatnya di sebelah barat pada saat Matahari terbenam atau dikenal dengan istilah ghurub asy-syams," kata Adib dikutip dari CNBC.

Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN Andi Pangerang juga pernah menyebut hilal di Arab Saudi akan mudah teramati karena kondisi atmosfernya berbeda dengan Indonesia.

Muhammadiyah memberikan solusi untuk menyamakan hari-hari besar bulan Islam seperti hari Arafah dan Idul Adha dengan menggunakan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).

KHGT memiliki prinsip satu hari satu tanggal yang sama di seluruh dunia. Dengan penerapan KHGT, diharapkan tidak akan ada lagi perbedaan dalam perayaan hari-hari besar Islam, termasuk Idul Adha, sehingga seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia dapat merayakannya secara serempak.

Semoga penjelasan ini memberikan pencerahan bagi kita semua.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.