Memahami Diabetes sebagai Penyakit Kronis, Tidak Bisa Disembuhkan Tapi Bisa Dikendalikan

AKURAT JAKARTA - Diabetes adalah penyakit kronis yang disebut sebagai ibu dari segala penyakit karena risiko komplikasi yang ditimbulkannya.
Data International Diabetes Federation (IDF) menyebutkan pada 2021, Indonesia berada di urutan kelima dunia dengan kasus diabetes terbanyak, yakni 19,5 juta.
Umumnya, penyakit ini tidak dapat disembuhkan tetapi, pola makan, gaya hidup, dan pengobatan yang tepat bisa mengendalikan kadar gula darah dan mencegah komplikasi yang mungkin timbul.
Baca Juga: Tidak Banyak Orang Tahu, Kapan Operasi Bypass Jantung Perlu Dilakukan
Demikian saat acara ngobrol sehat bareng media bersama Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Metabolik Endokrin dan Diabetes, Eka Hospital BSD di Jakarta, Kamis (17/4).
Diketahui diabetes melitus (DM), adalah penyakit kronis. Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat penyakit kronis adalah kondisi yang berlangsung selama satu tahun atau lebih dan membutuhkan penanganan medis atau perubahan pola hidup ataupun keduanya.
Menurut American Diabetes Association (ADA) Diabetes adalah kelompok kelainan metabolisme glukosa dalam darah akibat kekurangan insulin secara relatif atau absolut.
Baca Juga: Minuman Alami Berikut Ini Bantu Bersihkan Paru-paru, Cocok Saat Polusi Udara Jakarta Buruk
Insulin sendiri adalah hormon yang membantu mengatur kadar glukosa dalam darah.. Dengan insulin yang cukup, glukosa yang ada dalam darah dapat masuk ke sel tubuh untuk kemudian diubah menjadi energi.
Namun, ketika terjadi kekurangan insulin baik secara relatif maupun absolut tubuh, glukosa yang telah diserap dan ada di dalam darah akan menetap.
"Diabetes merupakan kondisi yang tidak dapat disembuhkan. Target tatalaksana diabetes yang hendaknya dicapai adalah kondisi terkontrol dan dengan target yang sifatnya individual," katanya.
"Artinya, perubahan pola hidup dan pengunaan obat perlu. disesuaikan dengan kondisi masing-masing individual dengan tujuan optimalisasi kualitas hidup dan pencegahan komplikasi," tambahnya.
Bahkan, kata dia, dengan disiplin yang baik, anda mungkin saja bisa menjaga kadar gula darah tetap normal hanya dengan menjaga pola makan dan olahraga, tanpa obat.
Jenis diabetes
Diabetes Melitus dibedakan 4 kelompok besar diantaranya adalah tipe 1, tipe 2, diabetes dalam kehamilan dan diabetes tipe lain.
Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan tipe diabetes terbanyak di seluruh dunia dan di Indonesia (lebih dari 90% kasus).
Penelitian terbaru mengatakan bahwa DMT2 terjadi karena 11 hal atau disebut juga egregious eleven, yang menyebabkan terjadinya resistensi insulin dalam tubuh, artinya pada diabetes tipe ini insulin masih diproduksi namun kerjanya mejadi tidak maksimal kibat berbagai macam faktor.
Disini menunjukan bahwa DMT2 adalah kondisi kompleks yang memerlukan tatalaksana menyerluruh dan perlu dikontrol secara berkala.
Diabetes melitus tipe 2 adalah jenis diabetes yang dapat dicegah. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda mengalami diabetes tipe 2, antara lain gaya hidup sedenter (kurang olahraga, obesitas, dan genetik).
Tipe kedua yang sering terjadi adalah diabetes melitus tipe 1 (DMT1), diabetes tipe ini merupakan kondisi autoimun yang tidak berhubungan dengan pola hidup. Melainkan adanya autoantibodi yang menyerang sel beta pada pankreas yang tugasnya adalah untuk memproduksi insulin.
Dengan terjadianya hal tersebut tubuh tidak dapat lagi menghasilkan insulin atau terjadi defisiensi insulin secara absolut sehingga metabolisme glukosa dalam darah tidak dapat terjadi. Pada diabetes tipe ini tatalaksana definitifnya adalah pemberian insulin eksternal (suntik).
Diabetes melitus gestasional (DMG), seperti namanya yakni diabetes yang terjadi pada masa gestasional atau kehamilan, diabetes tipe ini biasanya akan menghilang setelah periode kehamilan berakhir namun akan meningkatkan risiko terjadinya DMT2 di kemudian hari.
Kasus tingginya gula darah yang tidak dikategorikan dalam ke 3 kasus diabetes di atas akan dikategorikan sebagai diabetes tipe lain.
Disini beberapa kasus yang sering terjadi adalah diabetes akibat penggunaan obat steroid, maturity onset diabetes of the young (MODY), late onset autoimmune diabetes in adult (LADA) dan lain-lain.
Komplikasi akibat diabetes yang tidak terkontrol
Ada alasan diabetes disebut sebagai ibu dari segala penyakit. Sebab, komplika si yang dapat terjadi memang benar dapat melibatkan hampir seluruh bagian tubuh Anda.
Pada orang dewasa, kadar gula darah normal saat puasa adalah di bawah 100 mg/dL atau memiliki nilai HbA1 C di bawah 5,7%
Glukosa yang terus berada dalam aliran darah akan terus terbawa ke seluruh organ dan dapat merusak pembuluh darah dan organ sehingga akan menyebabkan komplikasi.
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat diabetes, antara lain:
Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler), seperti serangan jantung, stroke, dan aterosklerosis.
Diabetik neuropati, yaitu kerusakan saraf akibat diabetes yang ditandai dengan sensasi kesemutan, mati rasa, atau terbakar. Biasanya bermula di ujung jari kaki dan tangan.
Disfungsi ereksi, akibat kerusakan saraf yang berada di penis.
Nefropati diabetik, yaitu kerusakan ginjal yang terjadi akibat rusaknya pembuluh darah dan sistem saraf di glomerulus dan menyebabkan fungsi filtrasi ginjal gagal.
Retinopati diabetes, yaitu kerusakan saraf yang mata yang terjadi akibat diabetes dan dapat berujung pada kebutaan.
Penyakit pembuluh darah tepi, penyumbatan pada pembuluh darah yang biasanya terjadi pada pembuluh darah kaki akan menyebabkan aliran darah ya buruk pada kaki sehingga jika terjadi luka, penyembuhan jaringan akan terhambat dan jika terjadi terus menerus akan mengakibatkan kematian jaringan. Hal ini bisa berujung pada amputasi kaki.
Masalah kulit. Kadar gula darah yang tinggi menyebabkan Anda juga memiliki masalah pada kulit, termasuk di area kelamin. Infeksi jamur adalah yang paling sering terjadi.
Penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer terjadi karena diabetes tipe 2 yang tidak dikendalikan dapat merusak saraf di otak. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Torino vs Udinese di Serie A, 13 Oktober 2026: Mampukah Granata Bangkit di Kandang?
- 2Prediksi Skor Coventry City vs Newcastle United di Premier League, 13 Oktober 2026: Mampukah The Sky Blues Menghentikan Dominasi The Magpies?
- 3Prediksi Skor Levante vs Sevilla di La Liga, 13 Oktober 2026: Duel Dua Tim Terluka di Ciudad de Valencia
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Brentford di Premier League, 10 Oktober 2026: Rekor Tak Terkalahkan The Bees Diuji Unai Emery
- 5Prediksi Skor Atalanta vs Venezia di Serie A, 12 Oktober 2026: Mampukah La Dea Mengakhiri Tren Negatif?
- 6Prediksi Skor Sunderland vs Brighton di Premier League, 10 Oktober 2026: Akankah Peforma Apik The Seagulls Tambah Derita Tuan Rumah?
- 7Prediksi Skor Hoffenheim vs Hamburger SV di Bundesliga, 10 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Dua Tim yang Terluka
- 8Prediksi Skor Ipswich Town vs Fulham di Premier League, Sabtu 10 Oktober 2026: Mampukah The Tractor Boys Memutus Rekor Buruk?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!






