Menghindar dari Dunia, Gaya Hidup 'Manusia Tikus' Jadi Tren Baru di China, Indonesia Menyusul?

AKURAT JAKARTA - Di tengah persaingan kerja yang semakin ketat dan tekanan akademik yang tinggi, muncul fenomena baru di kalangan anak muda China: rat people atau lao shu ren, yang secara harfiah berarti manusia tikus.
Istilah ini bukan sekadar guyonan internet, melainkan potret nyata dari generasi muda, terutama Gen Z dan milenial, yang memilih menarik diri dari tuntutan sosial yang melelahkan.
Fenomena ini mengangkat sisi gelap dari kehidupan anak muda yang merasa terkekang oleh sistem yang menuntut produktivitas terus-menerus.
Mereka hidup seperti tikus, beraktivitas di malam hari, menghindari cahaya terang, dan memilih menyendiri di ruang yang nyaman namun sempit.
“Saya bangun siang, tirai kamar saya selalu tertutup karena terlalu terang. Tikus butuh lingkungan yang redup untuk bertahan,” ujar Pu Yiqin, mahasiswa magister asal Tiongkok yang kini tinggal di London, dalam wawancaranya dengan CNA.
Ia membagikan kehidupannya sebagai rat person di media sosial Xiaohongshu dengan sentuhan humor yang menyentil.
Tak hanya sekadar pilihan gaya hidup, menjadi rat people adalah bentuk kritik diam terhadap budaya kerja keras ekstrem yang tak memberikan hasil setimpal.
China mencatat tingkat pengangguran muda sebesar 15,8 persen pada April 2025.
Sementara, jumlah lulusan universitas mencapai rekor 12,22 juta tahun ini—lonjakan tajam dari tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga: Pramono Anung Buka FJGS 2025: Jakarta Siap Jadi Surga Belanja
“(Mereka) sudah bekerja keras, tapi tetap saja ada tekanan… sebagian mulai merasa tidak ada harapan,” ungkap Prof. Kuang Xianwen dari Xi’an Jiaotong-Liverpool University.
Bagi banyak dari mereka, menjadi rat person merupakan pilihan untuk bertahan, bukan bentuk kemalasan.
Bahkan, menurut Yuan Yuan, dosen di XJTLU, ini adalah bentuk “penolakan terhadap sistem yang menindas”.
Baca Juga: Fakta Mengejutkan Ghosting, Dari Takut Komitmen hingga Terlalu Banyak Pilihan
Ia menyebut dirinya tidak ingin mendaki tangga kesuksesan yang dipaksakan, tetapi tetap berfungsi dalam masyarakat dengan cara yang berbeda.
Menggunakan humor gelap atau zi hei, para rat people menertawakan kehidupan mereka sebagai pelindung mental di tengah tekanan berat.
Meski terdengar ironis, ini menjadi mekanisme bertahan hidup di dunia yang menuntut terlalu banyak. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor Kepulauan Faroe vs Kazakhstan di UNL, 26 September 2026: Tuan Rumah Punya Modal Kandang Kuat
- 2Prediksi Skor Islandia vs Estonia di UNL, 26 September 2026: Tuan Rumah Incar Awal Positif
- 3Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di UNL, 25 September 2026: Duel Perdana yang Sulit Diprediksi
- 4Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di UNL, 25 September 2026: Dapatkah Khvicha Kvaratskhelia Menjadi Pembeda?
- 5Prediksi Skor Armenia vs Latvia di UNL, 25 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Tanpa Kemenangan?
- 6Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UNL, 27 September 2026: Duel Seru di Kaunas!
- 7Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di UNL, 26 September 2026: Mampukah The Brave Falcons Lanjutkan Tren Positif?
- 8Prediksi Skor Andorra vs Malta di UNL, 24 September 2026: Mampukah Tim Tamu Pertahankan Rekor Tak Terkalahkan?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





