Jakarta

Menghindar dari Dunia, Gaya Hidup 'Manusia Tikus' Jadi Tren Baru di China, Indonesia Menyusul?

Zainal Abidin | 11 Juni 2025, 16:45 WIB
Menghindar dari Dunia, Gaya Hidup 'Manusia Tikus' Jadi Tren Baru di China, Indonesia Menyusul?

AKURAT JAKARTA - Di tengah persaingan kerja yang semakin ketat dan tekanan akademik yang tinggi, muncul fenomena baru di kalangan anak muda China: rat people atau lao shu ren, yang secara harfiah berarti manusia tikus.

Istilah ini bukan sekadar guyonan internet, melainkan potret nyata dari generasi muda, terutama Gen Z dan milenial, yang memilih menarik diri dari tuntutan sosial yang melelahkan.

Fenomena ini mengangkat sisi gelap dari kehidupan anak muda yang merasa terkekang oleh sistem yang menuntut produktivitas terus-menerus.

Baca Juga: 8 Dekade Musik Indonesia Dimeriahkan Konser Orkestra di Taman Ismail Marzuki, Menghadirkan Isyana Sarasvati hingga Farman Purnama, Cek Tanggalnya!

Mereka hidup seperti tikus, beraktivitas di malam hari, menghindari cahaya terang, dan memilih menyendiri di ruang yang nyaman namun sempit.

“Saya bangun siang, tirai kamar saya selalu tertutup karena terlalu terang. Tikus butuh lingkungan yang redup untuk bertahan,” ujar Pu Yiqin, mahasiswa magister asal Tiongkok yang kini tinggal di London, dalam wawancaranya dengan CNA.

Ia membagikan kehidupannya sebagai rat person di media sosial Xiaohongshu dengan sentuhan humor yang menyentil.

Baca Juga: JESICA Kembali Meriahkan Jogja Sabtu Malam Minggu Akhir Pekan Ini, Berikut Daftar Musisi yang Bakal Tampil

Tak hanya sekadar pilihan gaya hidup, menjadi rat people adalah bentuk kritik diam terhadap budaya kerja keras ekstrem yang tak memberikan hasil setimpal.

China mencatat tingkat pengangguran muda sebesar 15,8 persen pada April 2025.

Sementara, jumlah lulusan universitas mencapai rekor 12,22 juta tahun ini—lonjakan tajam dari tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Pramono Anung Buka FJGS 2025: Jakarta Siap Jadi Surga Belanja

“(Mereka) sudah bekerja keras, tapi tetap saja ada tekanan… sebagian mulai merasa tidak ada harapan,” ungkap Prof. Kuang Xianwen dari Xi’an Jiaotong-Liverpool University.

Bagi banyak dari mereka, menjadi rat person merupakan pilihan untuk bertahan, bukan bentuk kemalasan.

Bahkan, menurut Yuan Yuan, dosen di XJTLU, ini adalah bentuk “penolakan terhadap sistem yang menindas”.

Baca Juga: Fakta Mengejutkan Ghosting, Dari Takut Komitmen hingga Terlalu Banyak Pilihan

Ia menyebut dirinya tidak ingin mendaki tangga kesuksesan yang dipaksakan, tetapi tetap berfungsi dalam masyarakat dengan cara yang berbeda.

Menggunakan humor gelap atau zi hei, para rat people menertawakan kehidupan mereka sebagai pelindung mental di tengah tekanan berat.

Meski terdengar ironis, ini menjadi mekanisme bertahan hidup di dunia yang menuntut terlalu banyak. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.