Jakarta

Disebut Generasi Miskin oleh Timothy Ronald, Ini Realita Gen Z yang Jarang Disadari Banyak Orang

Menggi Febrianti | 2 Juli 2025, 20:59 WIB
Disebut Generasi Miskin oleh Timothy Ronald, Ini Realita Gen Z yang Jarang Disadari Banyak Orang

AKURAT JAKARTA - Pernah dengar Gen Z disebut "generasi miskin"? Atau mungkin malah kamu sendiri yang kadang merasa demikian? Istilah ini sering banget nongol di mana-mana, dan ironisnya, seringkali disertai dengan tudingan malas atau kurang effort. 

Padahal, kalau kita bedah lebih dalam, ada banyak realita dan tantangan yang seringkali luput dari pandangan banyak orang. Mari kita kupas tuntas, bukan untuk menyalahkan, tapi untuk memahami.

Sebuah video dari kanal YouTube Timothy Ronald mengangkat topik yang bikin kita mikir keras: mengapa Gen Z dianggap miskin?

Video tersebut enggak cuma nyalahin Gen Z, tapi juga ngajak kita melihat dua sisi mata uang: faktor sistemik di luar kendali mereka dan juga mentalitas yang mungkin perlu dievaluasi. Yuk, kita bedah satu per satu.

Baca Juga: Fokus Jadi Senjata! Ini Tips Ala Timothy Ronald untuk Raih Kesuksesan di Era Digital

Beban Ganda Gen Z: Sistem yang Memang Berat

Coba bayangkan: kamu baru lulus kuliah, semangat banget mau mulai kerja, tapi nyari lowongan aja susahnya minta ampun. Begitu dapat, gajinya seringkali cuma UMR.

Sementara itu, harga kebutuhan pokok, properti, sampai biaya hidup terus meroket. Orang tua mungkin bilang, "Dulu zaman Papa/Mama, beli rumah gampang lho!" Tapi, apakah perbandingannya masih relevan?

Video Timothy Ronald menyoroti beberapa faktor sistemik yang bikin Gen Z ketar-ketir:

  • Harga Kebutuhan Meroket, Gaji Stagnan: Nasi jadi lebih mahal, biaya sewa makin gila-gilaan. Rasanya, gaji yang naik cuma beberapa persen, langsung ludes ketelan inflasi. Gimana mau nabung buat rumah kalau buat makan dan transport aja pas-pasan?
  • Persaingan di Era Digital: Dulu, mungkin buka usaha gampang karena informasinya terbatas. Sekarang? Semua orang bisa belajar bisnis dari internet. Ini bikin persaingan makin ketat dan menciptakan sistem "Winner Takes All" di mana yang besar makin besar, yang kecil makin sulit bertahan.
  • Krisis Tiada Henti: Gen Z ini kayaknya "berlangganan" krisis. Lahir di tengah krisis finansial 2008, remaja pas pandemi COVID-19 yang bikin dunia berhenti berputar, dan sekarang dihadapkan pada ancaman otomatisasi dan AI yang bisa mengambil alih banyak pekerjaan. Bayangkan, sekolah online dua tahun, skill sosialisasi terhambat, eh, mau kerja malah udah diganti robot!
  • Efek Pencetakan Uang dan Inflasi Properti: Ini mungkin terdengar rumit, tapi intinya, ketika uang dicetak berlebihan, aset-aset seperti properti jadi makin mahal. Yang diuntungkan adalah orang-orang kaya yang punya banyak aset. Gen Z yang baru mulai, mau beli rumah aja udah kayak mimpi di siang bolong.
  • Sistem Pendidikan yang Rentan: Ada kekhawatiran biaya kuliah (UKT) akan jadi seperti student loan di Amerika yang menjebak Gen Z dalam utang sebelum mereka sempat punya karier. Kualitas pendidikan juga dipertanyakan dengan beberapa kebijakan yang kurang tepat.

Mengintip ke Dalam: Mentalitas Gen Z yang Perlu Direfleksi

Selain faktor eksternal, video ini juga jujur banget membahas sisi internal Gen Z yang mungkin berkontribusi pada tantangan finansial mereka. Ini bukan untuk menjustifikasi, tapi lebih ke ajakan untuk berkaca:

  • Mentalitas "Sok Pintar": Sering baca teori, tapi minim praktik. Pernah lihat anak 16 tahun ngajarin finansial? Ini bukan berarti enggak boleh belajar, tapi kadang ada jurang antara pengetahuan teoritis dan pengalaman nyata. Di dunia kerja, ini bisa jadi bumerang.
  • Mudah Terdistraksi & FOMO: Rentang perhatian pendek, gampang ketagihan media sosial. Isu sosial memang penting, tapi kadang kita lupa prioritas keluarga. Paling parah, Fear of Missing Out (FOMO) yang bikin boros. Tiket konser H-1 langsung dibeli karena lagi viral di TikTok, padahal besoknya makan mi instan. Hayo ngaku!
  • Konsumsi Informasi Aneh: Sumber informasi yang enggak kredibel bisa menyesatkan. Belajar finansial dari influencer tanpa pengalaman nyata, misalnya. Ini bikin kita terus-menerus mengonsumsi informasi yang enggak bermanfaat.
  • Hidup YOLO, Mikir Nanti: Filosofi "You Only Live Once" (YOLO) kadang bikin Gen Z mengutamakan kesenangan sesaat daripada kebutuhan dasar. Maunya serba instan, enggak sabaran, dan gampang tergoda kekayaan cepat. Langganan Netflix, Disney+, dan hiburan lainnya jadi prioritas, sementara tabungan nol. Plus, ada coping mechanism beli barang lucu saat stres, padahal dompet lagi sekarat.
  • Generasi "Passion" dan "Omong Kosong": Cuma mau kerja sesuai passion, padahal realitanya, uang itu penting banget. Banyak ide bisnis yang diomongin, tapi jarang ada yang direalisasi karena takut gagal.

Baca Juga: Bongkar Rahasia Dapat Rp100 Juta Pertama di Usia 20an! Tips dari Timothy Ronald yang Wajib Diketahui Pelajar & Mahasiswa

Jadi, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Video dari Timothy Ronald ini, meskipun mungkin terasa sedikit "menampar," sebenarnya adalah ajakan untuk refleksi. Ini bukan tentang siapa yang salah, tapi bagaimana kita bisa beradaptasi dan berkembang.

Pertama, akui bahwa tantangan eksternal itu nyata dan bukan salahmu sepenuhnya. Kedua, beranilah introspeksi diri tentang mentalitas yang mungkin perlu diubah. Buang jauh-jauh rasa "sok pintar" dan mulailah belajar dari mereka yang sudah punya pengalaman. Berhenti mengonsumsi informasi yang enggak jelas sumbernya.

Terakhir, mari kita fokus pada menciptakan nilai di masyarakat. Tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan. Kerja keras, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar akan selalu jadi kunci. 

Mungkin bukan hasil instan, tapi setidaknya, kita akan punya kontrol lebih besar atas masa depan finansial kita, di tengah dunia yang makin penuh kejutan. Ini bukan cuma tentang uang, tapi tentang bagaimana kita membangun fondasi hidup yang lebih kuat. Setuju?**

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
M
Editor
M. Rafix