Jakarta

Film Rajah: Perempuan yang Pernah Berpetualang dengan Batas Kehidupan

Yusuf Doank | 12 Desember 2025, 17:37 WIB
Film Rajah: Perempuan yang Pernah Berpetualang dengan Batas Kehidupan

AKURAT JAKARTA - Di balik lahirnya film berjudul Rajah, tersimpan perjalanan spiritual seorang perempuan—penuh misteri, pelik, dan sangat personal. Kisah-kisah itu saling berkelindan, menjadi napas yang menghidupi drama horor berdurasi 90 menit tersebut.

Dia adalah Ditha Samantha. Cukup panggil dia Ditha. Ia salah satu aktris sekaligus produser film, Dia juga istri sang sutradara, Raden Jiwo Kusumo.

Pasangan ini menggarap Rajah dari sudut pandang yang berbeda. Bukan semata hasil riset panjang atau imajinasi, melainkan rangkaian pengalaman spiritual yang berkali-kali menabrak batas logika.

Baca Juga: Pecinta Film Wajib Baca, Ini 7 Judul Netflix yang Bakal Menghilang Desember 2025

“Saya pernah mati suri lebih dua kali,” ucap Ditha—sebuah kalimat yang langsung menampar awal wawancara.

Sejak kecil, ia tumbuh bersama keluarganya di sebuah desa di Kabupaten Karanganyar, hidup di tengah kultur masyarakat Jawa yang kental dengan simbol, tanda, dan petunjuk-petunjuk samar.

Suatu ketika, sebagaimana cerita ibunya, Ditha kecil yang baru berusia 10 bulan terjatuh dari boks bayi di rumahnya.

Baca Juga: Dari Kisah Nyata Tragis hingga Fantasi Besar, Ini 5 Deretan Film Bioskop Desember 2025 yang Bikin Penasaran

“Mami waktu itu panik dan membawa saya ke rumah sakit. Mami adalah eyang saya. Saat kondisi saya kritis, Dokter tidak bisa berbuat banyak ketika mendapati denyut nadi dan napas saya berhenti,” tuturnya.

Orang tua beserta keluarga menangis berharap dokter keliru. Namun vonis tetap jatuh: meninggal. Tak lama setelah dokter keluar, di tengah isak dan kepanikan, datang seorang suster yang tidak dikenal. Wajahnya tenang. Ia menggendong bayi yang telah dinyatakan tak bernyawa itu.

"Mama cerita, saat itu mama selesai shalat meminta mukjizat dari Allah SWT. Kemudian suster itu datang membawa bayi itu dan diserahkan kembali, Lalu suster itu pergi,” kata Ditha.

Sesaat kemudian tubuh saya bergerak, menyadari tanda kehidupan itu, mamanya segera memanggil petugas untuk meminta pertolongan medis. “Pelan-pelan, denyut jantung normal kembali,” ujarnya.

Yang membuat keluarga tertegun: suster itu tidak pernah ditemukan. Bahkan petugas piket yang bertugas malam itu mengaku tidak mengenal perempuan yang dimaksud. “Sejak itu, mama saya tidak pernah tahu siapa sebenarnya dia.”

Seiring tumbuh besar, hidup Ditha kecil tidak pernah tenang. Ia sering melihat sosok yang tidak orang lain lihat , dari wujud cantik hingga sosok menakutkan yang membuatnya menangis histeris. “Saya seperti melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain, bahkan terkadang orang di sekitar saya juga mendadak bisa ikut melihat sosok itu ,” kenangnya.

Kejanggalan lain muncul. Pernah suatu ketika ia sedang bermain di kamarnya, tiba tiba menghilang dari kamar dengan posisi rumah masih tertutup semua saat itu. Orang tua dan warga mencari ke segala penjuru. “Saya ditemukan di atas pohon, padahal saya merasa sedang bermain dengan teman-teman saya. ” ujarnya.

Keluarga sempat mendatangkan ustaz untuk meruqyah. Tetapi keganjilan itu tidak pernah benar-benar pergi.

Saat kelas empat SD, hidupnya kembali menegang. Kepalanya terbentur meja, dan ia dilarikan ke IGD, setelah dirawat beberapa waktu kemudian dinyataka pulih.
Ternyata ketegangan pun berlanjut 2 Tahun Kemudian. Saat kelas Enam SD, Ditha kembali mendapat Diagnosis dokter menyebutkan Leukemia dan Tumor otak yang membuatnya melewati batas kehidupan itu terjadi lagi. Selama tubuhnya terbaring koma. Seakan waktu berhenti.

“Meskipun semua pesimistis saya bisa hidup. Mama saya tidak berhenti berdoa meminta mukjizat lg kepada Allah. Saya bayangkan situasinya mungkin seperti berada di perbatasan antara hidup dan mati. Dokter bahkan sempat menyatakan saya meninggal, lalu berkata tunggu dulu. Ternyata ada tanda kehidupan lagi.”

Setelah sadar, Ditha sempat tidak mengenali siapa pun, bahkan ibunya sendiri.

Tantangan maut terjadi lagi di saat usia 17 tahun. Malam itu, pulang kerja, motor yang ia kendarai ditabrak truk dari belakang dan tubuhnya terlempar.

“Menurut orang yang menolong saya, dan di TKP saya tidak bergerak sama sekali hingga ada polisi datang yang membawa, begitu sampai rumah sakit, napas dan denyut kembali muncul,” katanya.

Setelah kecelakaan itu, Ditha berani menerima kenyataan yang selama ini harus dialami, melihat dan mengerti hal - hal yang tidak dilihat oleh orang lainnya. Ditha berharap jika memang ini sudah takdir saya, semoga ini menjadi anugrah Allah SWT yang membawa keberkahan tidak hanya untuk diri saya tapi juga untuk banyak orang.

Raden Jiwo Kusumo menyebut film Rajah sebagai karya yang terinspirasi dari pengalaman spiritualitas istrinya. Situasi ketika berada di antara persimpangan rasionalitas dan logika mistika.

“Bagi saya, dia seperti antena yang menangkap sinyal di luar jangkauan orang kebanyakan. Bukan sekadar inspirasi, tapi dia sendiri adalah cerita,” ujarnya.

Mungkin kelak, ujar Jiwo, ketika Rajah ditonton publik, orang akan melihatnya sebagai film horor. “Tapi bagi kami, Rajah adalah memoar spiritual yang berubah menjadi karya,” katanya.

Beberapa bagian naskah mengalami revisi berkali-kali. Bukan karena salah atau tidak sinkron, melainkan ada sesuatu yang terasa mengganjal.

“Kami menulis alur tertentu, lalu beberapa hari kemudian muncul berita di televisi. Kejadiannya sama persis. Itu berulang. Akhirnya terpaksa kami hapus,” ujarnya.

Pada kesempatan lain, mereka menuliskan sebuah adegan yang dianggap menarik. Namun serangkaian gangguan membuat mereka berhenti.

“Seolah ada tangan tak terlihat yang ikut mengarahkan cerita,” kata Jiwo.

Film layar lebar yang diperankan Samuel Rizal, Aditya Zoni, Panji Zoni, Ditha Samantha, dan Angel Lisandi Putri ini dijadwalkan tayang serempak di seluruh bioskop Indonesia pada bulan 26 Februari 2026. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.