Empat Tipe Orangtua yang Menguras Emosi Anak, Apakah Kamu Termasuk "Korbannya"?

AKURAT JAKARTA - Orangtua tidak dewasa secara emosional sering dianggap sama dengan orangtua “toxic”, padahal kenyataannya tidak selalu begitu.
Ketika kamu berhadapan dengan orangtua tidak dewasa secara emosional, kamu mungkin merasa hubungan itu melelahkan tanpa tahu sebab pastinya.
Topik orangtua tidak dewasa secara emosional kembali dibahas karena banyak anak yang beranjak dewasa menyadari pola yang memengaruhi cara mereka berhubungan dengan orang lain.
Baca Juga: UPfinity, Wahana Kaca Modern di Tengah Kota Jakarta
Dalam situasi seperti ini, penting buat kamu memahami bahwa ketidakmatangan emosional bukan sekadar soal kepribadian, tapi tentang kemampuan mengelola stres dan merespons kebutuhan anak.
Kesadaran ini membantu kamu membaca ulang pengalaman masa kecil secara lebih objektif.
Psikolog klinis Lindsay C. Gibson menjelaskan bahwa orangtua yang tidak matang secara emosional tidak selalu menunjukkan perilaku buruk di setiap waktu.
Baca Juga: Menyusuri Alam Semesta di Teater Bintang Planetarium Taman Ismail Marzuki
“Orangtua tersebut sebenarnya memiliki sisi baik. Masalahnya, kehadiran emosional mereka terjadi sesuai jadwal dan kondisi perasaan orangtua itu sendiri, bukan berdasarkan kebutuhan anak,” ujarnya, dikutip dari Business Insider, Selasa (6/1/2026).
Ketika respons emosional orangtua tidak konsisten, hubungan pun menjadi rapuh: anak merasa harus selalu berhati-hati agar tidak memicu ledakan emosi.
Dalam konflik atau situasi penuh tekanan, orangtua seperti ini bisa bereaksi berlebihan, menarik diri, atau menghilang sama sekali — membuat kamu seolah “berjalan di atas kulit telur”.
Baca Juga: Kamu Bisa Masuk Museum Nasional Tanpa Bayar? Cek Syarat Resminya di Sini
Gibson mengelompokkan mereka ke dalam empat tipe utama, meski satu orangtua bisa memadukan beberapa ciri.
Tipe pertama adalah orangtua reaktif.
Tampak hangat ketika semuanya berjalan sesuai keinginan, tetapi mudah meledak saat terganggu.
Baca Juga: Dari Fosil hingga Budaya Awal, Wisata Edukatif di Museum Nasional Indonesia
Anak yang dibesarkan dalam pola ini sering tumbuh menjadi people pleaser demi menghindari pertengkaran.
“Mereka membuat hidup menjadi tidak menyenangkan ketika mereka marah sehingga orang-orang secara otomatis mulai berpikir dua kali sebelum berbicara atau melakukan sesuatu,” kata Gibson.
Tipe kedua adalah orangtua yang sangat kritis, dengan standar tinggi dan kontrol ketat.
Baca Juga: Transisi Hari-hari Pertama Sekolah, Kenali Kesalahan Kecil Orang Tua yang Diam-diam Membebani Anak
“Mereka bisa sangat memaksa dan sangat mengontrol,” ucap Gibson.
Anak kerap merasa tidak pernah cukup, hingga membawa rasa lelah emosional sampai dewasa.
Tipe ketiga, orangtua pasif, terlihat menyenangkan tetapi menghindar saat dibutuhkan.
Baca Juga: Wow, Padi Reborn Siapkan Konser Intim dengan Panggung 360 Derajat
“Mereka tampak tidak merasa perlu untuk turun tangan dalam membantu anak,” tutur Gibson.
Akibatnya, anak belajar menekan perasaan sendiri.
Terakhir, orangtua yang tidak hadir secara emosional.
Baca Juga: Tumplek Blek! 50.000 Orang Kunjungi Kebun Binatang Ragunan atau TMR di Hari Terakhir Libur Sekolah
Orang tua tipe ini jarang merespons dan membuat anak merasa tidak penting.
“Anak itu merasa tidak cukup penting untuk mendapatkan perhatian orangtuanya,” ujar Gibson.
Dampaknya bisa panjang: harga diri rendah, sulit menetapkan batas, dan menerima hubungan yang dingin di masa dewasa.
Baca Juga: Aturan Baru BPJS 2026, Peserta Wajib Skrining Riwayat Kesehatan Sebelum Berobat
Untuk kamu yang mengalaminya, menetapkan batas, merespons dengan tenang, dan — bila perlu — mengurangi intensitas komunikasi dapat membantu.
Dengan dukungan yang tepat, pola yang tidak sehat tetap bisa diubah menuju relasi yang lebih aman secara emosional. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor Aston Villa vs Brentford di Premier League, 10 Oktober 2026: Rekor Tak Terkalahkan The Bees Diuji Unai Emery
- 2Prediksi Skor Torino vs Udinese di Serie A, 13 Oktober 2026: Mampukah Granata Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Atalanta vs Venezia di Serie A, 12 Oktober 2026: Mampukah La Dea Mengakhiri Tren Negatif?
- 4Prediksi Skor Coventry City vs Newcastle United di Premier League, 13 Oktober 2026: Mampukah The Sky Blues Menghentikan Dominasi The Magpies?
- 5Prediksi Skor Levante vs Sevilla di La Liga, 13 Oktober 2026: Duel Dua Tim Terluka di Ciudad de Valencia
- 6Prediksi Skor Sunderland vs Brighton di Premier League, 10 Oktober 2026: Akankah Peforma Apik The Seagulls Tambah Derita Tuan Rumah?
- 7Prediksi Skor Hoffenheim vs Hamburger SV di Bundesliga, 10 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Dua Tim yang Terluka
- 8Prediksi Skor Ipswich Town vs Fulham di Premier League, Sabtu 10 Oktober 2026: Mampukah The Tractor Boys Memutus Rekor Buruk?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







