Jakarta

Mengenal Migraine Aura, Gangguan Visual yang Kerap Disalahartikan

Yusuf Doank | 28 Maret 2026, 07:55 WIB
Mengenal Migraine Aura, Gangguan Visual yang Kerap Disalahartikan
Mengenal Migraine Aura, Gangguan Visual yang Kerap Disalahartikan

AKURAT JAKARTA — Perubahan penglihatan yang terjadi secara tiba-tiba sering kali memicu kekhawatiran bagi siapa pun yang mengalaminya.

Namun, dalam dunia medis, kondisi ini sering kali merupakan tanda dari migraine aura, sebuah gangguan saraf sementara yang memengaruhi indera, terutama penglihatan, sebelum munculnya serangan migrain.

Penderitanya biasanya akan melihat kilatan cahaya, garis zigzag, atau bayangan yang mengganggu pandangan sebagai sinyal awal sebelum rasa sakit kepala yang hebat menyerang.

Baca Juga: Larang TPS di Badan Sungai Kawasan TPU Tanah Kusir, Gubernur Pramono: Tidak Boleh Ada Lagi

Fenomena migraine aura tidak selalu berlanjut menjadi sakit kepala, sebuah kondisi yang sering membuat pasien merasa bingung.

Gejala ini umumnya muncul secara bertahap dan berlangsung dalam durasi singkat, yakni antara 5 hingga 60 menit.

Meskipun secara medis tidak dianggap berbahaya, pengalaman pertama mengalami gangguan visual ini tetap terasa mengkhawatirkan karena kemunculannya yang mendadak.

Gangguan visual merupakan gejala yang paling umum ditemukan pada penderita kondisi ini.

Penglihatan seseorang dapat dipenuhi oleh cahaya yang berkedip, pola bergelombang, atau area gelap yang menutupi sebagian bidang pandang.

Selain aspek visual, migraine aura juga dapat memengaruhi sensasi fisik tubuh lainnya. Beberapa orang melaporkan adanya rasa kesemutan atau mati rasa yang bermula dari tangan lalu menyebar ke area wajah, hingga kesulitan dalam menemukan kata-kata yang tepat saat berbicara.

Penyebab utama dari migraine aura berkaitan erat dengan perubahan aktivitas listrik di otak yang terjadi secara mendadak. Gelombang aktivitas ini menyebar di permukaan otak dan memengaruhi cara saraf berkomunikasi, sehingga memicu berbagai gejala sensorik.

Terdapat sejumlah faktor pemicu yang patut diwaspadai, mulai dari tingkat stres yang tinggi, kurang tidur, hingga perubahan hormon. Pola makan yang tidak teratur serta paparan cahaya terang dan suara bising juga diketahui dapat memperparah kondisi tersebut.

Hal menarik yang perlu diketahui masyarakat adalah keberadaan silent migraine, yakni kondisi di mana fase aura terjadi tanpa diikuti oleh rasa nyeri di kepala. Meski tanpa rasa sakit, gejalanya tetap dapat mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan.

Mengingat gejalanya memiliki kemiripan dengan kondisi medis yang lebih serius seperti gangguan saraf kronis atau stroke ringan, kewaspadaan tetap menjadi hal utama.

Jika gejala muncul secara berulang atau terasa berbeda dari biasanya, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis.

Sebagai langkah awal penanganan, penderita disarankan untuk segera beristirahat di tempat yang tenang dan minim cahaya.

Penggunaan kompres dingin pada area kepala atau sekadar menutup mata dapat membantu meredakan intensitas gejala.

Dalam jangka panjang, pengelolaan gaya hidup sehat seperti menjaga kualitas tidur dan pola makan teratur menjadi kunci utama pencegahan.

Dengan mengenali gejala dan pemicunya, masyarakat diharapkan dapat menghadapi kondisi ini dengan lebih tenang tanpa harus terjebak dalam kepanikan yang tidak perlu.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y