Stop Gula dan Tepung Selama 24 Jam, Tubuh Bakal Rasakan Perubahan Drastis Ini

AKURAT JAKARTA - Menghentikan asupan gula tambahan dan tepung olahan, meski hanya dalam durasi 24 jam, terbukti mampu memicu proses pemulihan alami.
Pemulihan alami atau "reset" itu terjadi pada sistem metabolisme tubuh.
Paparan konsumsi gula dan karbohidrat sederhana secara berlebih kerap memicu peradangan internal serta lonjakan insulin yang tidak stabil.
Baca Juga: F4 Comeback ke Indonesia, Ini Detail Konser F✦FOREVER yang Bikin Fans Nostalgia!
Berdasarkan laporan Times of India, pengurangan dua elemen tersebut secara signifikan membantu tubuh memulihkan keseimbangan hormon dan tingkat energi secara mandiri.
Dalam kurun waktu satu hari tanpa asupan gula dan tepung, tubuh mengalami transformasi pada tingkat seluler. Salah satu dampak yang paling instan adalah stabilisasi kadar gula darah.
Tanpa karbohidrat sederhana, pankreas tidak lagi dipaksa memproduksi insulin secara berlebihan, sehingga fluktuasi energi yang drastis dapat dihindari.
Baca Juga: Sering Dilakukan, Ternyata Waxing Punya 8 Risiko Ini
Selain itu, tubuh mulai melepaskan kelebihan cairan yang terikat pada cadangan glikogen. Proses ini secara efektif mengurangi retensi air dan rasa kembung (bloating), yang sering kali membuat tubuh terasa berat dan bengkak di area tertentu.
Aspek krusial lainnya adalah penurunan tingkat peradangan sistemik. Gula dikenal sebagai pemicu ketidakseimbangan bakteri pada saluran pencernaan.
Dengan menghentikan pasokannya, sistem imun mulai bekerja lebih efisien dan fungsi kognitif meningkat. Fenomena brain fog atau pikiran yang terasa kabur perlahan berkurang seiring dengan stabilnya suplai energi dari lemak dan protein.
Namun, fase awal transisi ini biasanya dibarengi dengan munculnya keinginan makan yang kuat (craving). Hal ini merupakan respons neurologis saat otak mencoba melepaskan ketergantungan terhadap hormon dopamin yang biasa dipicu oleh rasa manis.
Meskipun durasi 24 jam belum menjadi solusi permanen bagi masalah kesehatan kronis, langkah ini dinilai sebagai intervensi awal yang efektif untuk membangun kesadaran nutrisi. Konsistensi dalam membatasi gula dan tepung olahan berpotensi besar menekan risiko penyakit metabolik di masa depan.
Para ahli kesehatan tetap menyarankan bagi individu dengan kondisi medis tertentu, seperti penderita diabetes atau gangguan ginjal, untuk melakukan konsultasi medis terlebih dahulu sebelum melakukan perubahan pola makan yang drastis guna menghindari risiko hipoglikemia atau ketidakseimbangan elektrolit.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor Kazakhstan vs Kepulauan Faroe di UNL, 6 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Tanpa Kemenangan?
- 2Prediksi Skor Kroasia vs Spanyol di UNL, 7 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan 0-7?
- 3Prediksi Skor Inggris vs Ceko di UNL, 7 Oktober 2026: Mampukah The Three Lions Lanjutkan Tren Gemilang?
- 4Raker HAPPI Jatim 2026, Prof Zainul Hidayah Terpilih Jadi Ketua
- 5Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Tapi Mengapa Ranking FIFA Indonesia Tidak Naik? Ini Penjelasannya!
- 6Hadiri Festival Indonesia 2026 di Korea Selatan, Wagub Rano Perkuat Diplomasi Budaya Jakarta - Seoul
- 7Legislator Golkar Dadiyono Ungkap Warga Mulai Apatis terhadap PTSL, Pilih Urus Sertifikat Sendiri
- 8RDF Rorotan Belum Maksimal, Legislator Golkar Dimaz Raditya Soroti Efektivitas Anggaran Rp170 Miliar
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!


