Film Dilan ITB 1997 Soroti Gejolak Aktivisme dan Romansa Mahasiswa

AKURAT JAKARTA – Industri perfilman tanah air kembali diramaikan dengan kelanjutan saga populer karya Pidi Baiq, Dilan ITB 1997.
Film produksi Falcon Pictures ini menarik perhatian publik setelah peluncuran cuplikan (trailer) perdananya yang memotret transisi karakter Dilan dari masa SMA menuju bangku perkuliahan di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada periode krusial sejarah Indonesia.
Berbeda dengan sekuel sebelumnya yang kental dengan romansa remaja, seri kali ini membawa dimensi yang lebih kompleks.
Baca Juga: Bioskop Layar Digi Resmi Dibuka di Alfamart, Hadirkan Film Dua Surga Dalam Cintaku
Latar waktu 1997 menempatkan Dilan di tengah pusaran pergerakan mahasiswa menjelang Reformasi 1998, sebuah fase di mana idealisme pemuda diuji oleh situasi sosial-politik yang bergejolak.
"Film ini tidak hanya bercerita tentang pencarian jati diri seorang pemuda, tetapi juga bagaimana sebuah generasi dipaksa dewasa oleh keadaan. Penonton akan melihat sisi Dilan yang lebih idealis di tengah tekanan rezim yang mulai goyah," tulis deskripsi sinopsis resminya, Senin (6/4/2026).
Pemilihan aktor Ariel NOAH sebagai pemeran Dilan dewasa serta kehadiran Raline Shah memberikan warna baru dalam departemen akting.
Meski demikian, film ini memicu diskusi hangat di jagat maya terkait representasi sejarah. Salah satu poin yang menuai pro-kontra adalah adegan di akhir cuplikan yang memperlihatkan respons karakter terhadap momentum mundurnya Presiden Soeharto.
Dialog-dialog sederhana khas Pidi Baiq tetap dipertahankan, namun kini bersanding dengan narasi diskusi intelektual kampus teknik.
Karakter Dilan digambarkan harus menyeimbangkan antara tanggung jawab akademis, jiwa bebasnya yang menyeretnya ke arus demonstrasi, serta konflik personal yang belum usai.
Dari sisi penceritaan, Dilan ITB 1997 juga menjanjikan drama emosional melalui kembalinya karakter Milea di tengah hubungan Dilan dengan Ancika.
Konflik cinta segitiga ini menjadi simbol pergulatan Dilan dalam memilih antara kenangan masa lalu atau realitas masa depan yang sedang ia bangun.
Kehadiran film ini diharapkan mampu memberikan perspektif baru bagi penonton muda mengenai atmosfer kehidupan kampus dan pergerakan mahasiswa di akhir era 90-an.
Dengan balutan sinematografi Bandung masa lampau, Dilan ITB 1997 diproyeksikan menjadi salah satu rilisan domestik yang paling banyak diperbincangkan tahun ini, baik dari aspek hiburan maupun diskursus sejarah yang diusungnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Kazakhstan vs Kepulauan Faroe di UNL, 6 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Tanpa Kemenangan?
- 2Prediksi Skor Kroasia vs Spanyol di UNL, 7 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan 0-7?
- 3Prediksi Skor Inggris vs Ceko di UNL, 7 Oktober 2026: Mampukah The Three Lions Lanjutkan Tren Gemilang?
- 4Raker HAPPI Jatim 2026, Prof Zainul Hidayah Terpilih Jadi Ketua
- 5Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Tapi Mengapa Ranking FIFA Indonesia Tidak Naik? Ini Penjelasannya!
- 6Hadiri Festival Indonesia 2026 di Korea Selatan, Wagub Rano Perkuat Diplomasi Budaya Jakarta - Seoul
- 7RDF Rorotan Belum Maksimal, Legislator Golkar Dimaz Raditya Soroti Efektivitas Anggaran Rp170 Miliar
- 8Putusan MK Terkait Ijazah Gibran, Direktur IPO Sebut DPR Punya Celah Makzulkan Wapres
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





