Patah Hati Harus Diobati dengan Jatuh Cinta Lagi? Ini Kata Psikologis

AKURAT JAKARTA – Kehilangan seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup merupakan pengalaman emosional yang menyakitkan.
Tak heran, muncul anggapan di masyarakat bahwa cara tercepat untuk mengobati patah hati adalah dengan segera jatuh cinta lagi. Namun, benarkah kehadiran orang baru bisa menjadi penawar luka lama?
Sebagian orang memilih langsung membuka hati pascaputus dengan harapan bisa mengalihkan rasa sakit. Dalam psikologi, kondisi ini sering memicu terbentuknya rebound relationship atau hubungan pelarian.
Baca Juga: Komplotan Jambret Emas Jakbar Diringkus, Warga Diimbau Waspada Pakai Perhiasan di Jalan
Hubungan jenis ini umumnya terjadi karena seseorang belum sepenuhnya menerima kenyataan pahit di masa lalu.
Ciri-cirinya meliputi kebiasaan membandingkan pasangan baru dengan mantan, atau sekadar memanfaatkan orang lain untuk mengisi kekosongan emosional.
Jika dipaksakan, cinta baru hanya akan menjadi pereda nyeri sementara. Ketika euforia awal memudar, luka lama yang belum tuntas berpotensi besar muncul kembali ke permukaan dan merusak hubungan yang baru.
Sebelum memutuskan untuk kembali memulai petualangan romantis, langkah paling krusial yang harus dilakukan adalah memberikan waktu bagi diri sendiri untuk pulih (self-healing).
Proses pemulihan yang sehat dapat dilakukan dengan cara: Menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga dan sahabat.Menekuni hobi lama atau mengeksplorasi aktivitas baru. Fokus pada pengembangan diri dan karier.
Ketika seseorang sudah mampu menemukan kebahagiaan secara mandiri tanpa bergantung pada status hubungan, hal tersebut menjadi indikator utama bahwa ia telah siap secara emosional.
Jatuh Cinta sebagai Pilihan, Bukan Pelarian
Jatuh hati kembali tentu bukan hal yang dilarang. Bagaimanapun, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan kasih sayang. Namun, pastikan perasaan baru itu tumbuh secara alami setelah Anda berdamai dengan masa lalu.
Hubungan yang dibangun di atas kesiapan emosional yang matang akan memiliki fondasi yang jauh lebih kokoh. Kedua belah pihak hadir bukan untuk saling menyembuhkan trauma, melainkan untuk berjalan bersama dan saling mendukung proses pertumbuhan diri.
Pada akhirnya, penawar terbaik untuk patah hati bukanlah kehadiran orang baru secara instan, melainkan waktu, penerimaan, dan kelapangan dada untuk berdamai dengan diri sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor AS Monaco vs RC Lens di Ligue 1, 19 September 2026: Mampukah Les Monegasques Pertahankan Tren Positif?
- 2Prediksi Skor Espanyol vs Elche di La Liga, 19 September 2026: Misi Los Pericos Bangkit di Kandang
- 3Prediksi Skor Monza vs Sassuolo di Serie A, 19 September 2026: Mampukah Biancorossi Hentikan Tren Buruk?
- 4Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Premier League, 19 September 2026: Duel Ketat Dua Tim Papan Tengah di Hill Dickinson
- 5Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Premier League, 19 September 2026: Misi Akhiri Paceklik Kemenangan
- 6Prediksi Skor Bayern Munich vs Union Berlin di Bundesliga, 19 September 2026: Mampukah Die Eisernen Tahan Gempuran Tuan Rumah?
- 7Prediksi Skor Osasuna vs Rayo Vallecano di La Liga, 19 September 2026: Duel Dua Tim dengan Tujuh Poin di El Sadar
- 8Prediksi Skor Nottingham Forest vs Coventry City di Premier League, 19 September 2026: Mampukah The Sky Blues Hentikan Tren Buruk?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!

