Jakarta

Kenapa Orang Barat Lebih Suka Cebok Pakai Tisu, Sementara Orang Indonesia Pakai Air?

Anggerhana Denni Rahmawati | 28 September 2026, 07:30 WIB
Kenapa Orang Barat Lebih Suka Cebok Pakai Tisu, Sementara Orang Indonesia Pakai Air?
Orang barat terbiasa pakai tisu untuk cebok. - Magnific

AKURAT JAKARTA - Membersihkan diri atau cebok setelah buang air besar merupakan rutinitas yang dilakukan hampir semua orang.

Namun, cara yang digunakan ternyata bisa berbeda jauh di setiap negara.

Masyarakat Indonesia umumnya mengandalkan air, sedangkan tisu toilet lebih lazim digunakan di sejumlah negara Barat.

Perbedaan ini bukan semata-mata persoalan pilihan pribadi.

Kebiasaan tersebut terbentuk melalui perjalanan panjang yang dipengaruhi budaya, kondisi lingkungan, hingga perkembangan teknologi.

Dari batu hingga tisu toilet

Sebelum tisu toilet modern dikenal luas, manusia menggunakan berbagai benda untuk membersihkan diri setelah buang air besar.

Pilihannya bergantung pada bahan yang tersedia, kebiasaan masyarakat, dan kondisi lingkungan.

Pada masa Romawi kuno, misalnya, batu pernah digunakan sebagai alat pembersih.

Sementara itu, penggunaan air telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat di berbagai wilayah, termasuk kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Mahasiswa UNS Asal Nigeria Ini Belajar Arti Peduli dari Pertanyaan Sederhana Warga Solo

Menariknya, tisu sebagai bahan pembersih justru memiliki jejak awal di China.

Dalam riset Toilet Hygiene in the Classical Era (2012), penggunaan tisu untuk keperluan tersebut disebut telah dikenal di sana sebelum berkembang di dunia Barat.

Di Eropa, penyebutan tisu toilet mulai ditemukan pada abad ke-16.

Perkembangannya kemudian semakin pesat seiring kemunculan produk tisu gulung pada akhir abad ke-19.

Iklim dan budaya ikut membentuk kebiasaan

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.