Diplomasi Buntu Kesekian Kali, Trump Tolak Mentah-mentah Tawaran Damai Iran

AKURAT JAKARTA - Harapan dunia untuk melihat berakhirnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini berada di titik yang sangat genting.
Pasalnya, pada Jumat (1/5), Iran mengirimkan sebuah "proposal baru" berisi tawaran perdamaian kepada tim penengah (mediator) di Pakistan.
Langkah ini dilakukan setelah Presiden Donald Trump menolak mentah-mentah tawaran damai yang diajukan Iran sebelumnya.
Proposal revisi ini merupakan upaya terakhir Teheran untuk melihat apakah ada celah kesepakatan yang bisa diterima oleh kedua belah pihak sebelum situasi kembali memanas menjadi perang terbuka.
Baca Juga: Terus Diancam Trump Soal Blokade Laut, Iran: Perpanjang Saja 30 Hari
Saling Gertak dan Syarat Berat
Meski tim penengah di Islamabad merasa kesepakatan sudah sangat dekat, suasana di media sosial justru berbicara sebaliknya.
Presiden Trump lewat akun Truth Social-nya mengunggah pesan keras bertajuk "No More Mr. Nice Guy" sambil menegaskan bahwa ia tidak akan pernah menandatangani perjanjian damai selama Iran masih bersikeras mempertahankan program senjata nuklirnya.
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, juga tidak mau kalah.
Lewat pesan tertulis, ia menyatakan bahwa Iran tidak akan membiarkan pihak asing mengatur pertahanan mereka dan akan tetap melindungi teknologi nuklir serta rudal nasionalnya.
Apa yang Sebenarnya Dinegosiasikan?
=====
Proposal yang sedang mondar-mandir antara Washington dan Teheran ini berisi poin-poin utama seperti:
Penghentian Perang
Nasib nuklir, dimana AS meminta Iran membuang senjata nuklirnya, sementara Iran mengaku hanya menggunakannya untuk tujuan damai.
Blokade Ekonomi, Iran ingin AS membuka blokade laut agar mereka bisa kembali menjual minyak dan memperbaiki ekonomi.
Saat ini, kedua belah pihak sedang dalam posisi "siap tempur" jika negosiasi di Pakistan ini gagal mencapai kata sepakat.
Strategi Iran saat ini diduga sengaja mengulur waktu melalui berbagai tawaran proposal kecil untuk melihat apakah Trump akan melunak akibat tekanan harga bensin yang terus melonjak di Amerika. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







