Jakarta

Ingin Liburan Anti-Mainstream? Yuk, Nikmati Museum Malam di Jakarta!

Zainal Abidin | 19 Mei 2025, 10:00 WIB
Ingin Liburan Anti-Mainstream? Yuk, Nikmati Museum Malam di Jakarta!

AKURAT JAKARTA - Jika dinding bisa bicara, apa yang akan mereka bisikkan di malam hari?

Kini, kamutak perlu berimajinasi, karena lima museum di Jakarta resmi memperpanjang jam operasionalnya hingga malam setiap akhir pekan.

Langkah berani ini diambil setelah suksesnya uji coba "Night at The Museum" pada 10-11 Mei 2025.

Baca Juga: Pariwisata Indonesia Bangga! Museum SAKA Bali Dinobatkan Jadi Yang Terindah di Dunia

Uji coba itu berhasil menarik ribuan pengunjung untuk menyusuri jejak sejarah dalam suasana yang berbeda.

Mulai sekarang, Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, Museum Bahari, dan Museum Betawi di Setu Babakan akan buka dari pukul 09.00 hingga 20.00 WIB setiap Sabtu dan Minggu.

Ini bukan sekadar memperpanjang jam buka, tapi juga menghadirkan pengalaman baru – sebuah perjalanan melintasi waktu di bawah gemerlap lampu malam.

Baca Juga: PIK Bakal Jadi Magnet Baru Generasi Muda Ibu Kota, Geser Dominasi Jakarta Selatan?

Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahullah Tamary, menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil setelah melihat tingginya minat masyarakat pada uji coba sebelumnya.

"Keberhasilan uji coba pada 10–11 Mei lalu membuktikan bahwa masyarakat menyambut baik ruang-ruang edukatif dan rekreatif yang berkualitas. Dengan diresmikannya kebijakan ini, diharapkan masyarakat akan semakin aktif mengunjungi museum dan menjadikannya bagian dari gaya hidup urban yang sadar budaya dan sejarah," jelas Miftah.

Ia menambahkan bahwa perpanjangan jam ini bukan sekadar soal waktu, tapi tentang menciptakan momen.

Baca Juga: Festival Gelar Budaya Hari Nelayan di Palabuhanratu 2025: Ada Pentas Dangdut Pesisir hingga Wayang Golek Bersama Bapak Aing, Simak Jadwal Lengkapnya!

“Berkunjung ke museum saat malam hari menawarkan nuansa berbeda. Bayangkan berdiri di depan diorama perjuangan kemerdekaan saat sinar redup menyorot wajah para pahlawan, atau merasakan suasana mistis di tengah jejak sejarah maritim di Museum Bahari. Ini lebih dari sekadar edukasi – ini adalah perjalanan emosional,” tambahnya.

Menurutnya, ini adalah langkah strategis untuk menepis anggapan bahwa museum itu membosankan.

“Kami ingin museum menjadi ruang publik yang hidup, inklusif, dan relevan dengan kehidupan masyarakat Jakarta saat ini. Kami ingin orang-orang merasakan sejarah, bukan sekadar melihatnya,” tutupnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.