Jakarta

Sedang Viral dan Mendunia Tren Aura Farming, Lomba Pacu Jalur di Tepian Narosa Teluk Kuantan Bakal Digelar 20-24 Agustus 2025

Sastra Yudha | 7 Juli 2025, 14:50 WIB
Sedang Viral dan Mendunia Tren Aura Farming, Lomba Pacu Jalur di Tepian Narosa Teluk Kuantan Bakal Digelar 20-24 Agustus 2025

AKURAT JAKARTA - Aura Farming kini sedang viral dan mendunia. Banyak para pesohor, mulai dari pesebakbola hingga selebritis dunia, yang menari-nari ala penari pacu jalur.

Mereka menirukan tarian penari cilik di pacu jalur Kuantan Singingi, Riau, bernama Rayyan Arkan Dikha.

Aksi bocah 11 tahun menari-nari di atas jalur mendadak viral hingga kini dijuluki Aura Farming.

Nah, bagi kalian yang ingin menyaksikan para penari cilik meliuk-liuk di atas perahu pacu jalur, silahkan datang ke Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

Baca Juga: Hati-hati! Hingga Siang Ini, 91 RT dan 3 Ruas Jalan di Jakarta Masih Tergenang Banjir, Berikut Titik Lokasinya

Ajang tahunan, Pacu Jalur Tradisional, akan kembali digelar di Tepian Narosa Teluk Kuantan, pada 20–24 Agustus 2025 mendatang.

Perlombaan perahu panjang ini tidak hanya menjadi tradisi lokal, namun kini juga menjadi sorotan internasional. Hal ini seiring dengan maraknya tren Aura Farming yang ramai di media sosial.

Fenomena ini berawal dari viralnya cuplikan video “Anak Coki” atau anak-anak penari yang berada di ujung perahu dalam lomba pacu jalur.

Dengan gerakan khas Melayu yang lincah dan penuh ekspresi, mereka menari untuk membakar semangat para pendayung.

Video mereka yang diunggah ke TikTok dan platform media sodial lainnya, memicu tren baru di dunia yang dikenal sebagai “Aura Farming”.

Tak hanya dari Indonesia, berbagai konten kreator dari luar negeri ikut menirukan gerakan mereka, memperluas daya tarik tradisi ini ke ranah global.

Baca Juga: Manajer Zaki Targetkan Juara, Tim Gerald Vanenburg Diunggulkan di Piala AFF U-23: Kami Harus Tetap Waspada

Pacu Jalur bukan tradisi baru. Lomba perahu ini sudah ada sejak abad ke-17. Dulunya merupakan bentuk transportasi serta bagian dari perayaan hari-hari besar, seperti peringatan kemerdekaan dan perayaan keagamaan.

Jalur — perahu panjang yang digunakan — terbuat dari kayu utuh, memiliki panjang 25 hingga 40 meter, dan diawaki 40 hingga 60 pendayung.

Tidak hanya tentang kecepatan, pacu jalur mencerminkan nilai-nilai budaya seperti kebersamaan, keberanian, dan keharmonisan dengan alam.

Bahkan, dalam proses pembuatan jalur, masyarakat percaya bahwa setiap batang kayu membawa filosofi tersendiri. Dari penebangan pohon hingga proses ukiran, semuanya sarat makna dan adat.

Tukang tari atau “Anak Coki” adalah anak-anak berusia 8–13 tahun yang berdiri di bagian depan perahu. Mereka mengenakan pakaian adat Melayu lengkap dan bertugas menjaga ritme pendayung melalui tarian mereka.

Gerakan mereka bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga bagian penting dari strategi perlombaan.

Anak-anak dipilih karena tubuh mereka yang ringan menjaga keseimbangan perahu, sementara gerakan mereka membangkitkan semangat dan kekompakan tim.

Baca Juga: CATAT! My Chemical Romance atau MCR Bakal Konser di Jakarta pada Hammersonic Festival 2026, Penjualan Tiketnya Dimulai Rabu Lusa

Pacu Jalur telah menjadi agenda tahunan Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi dan merupakan bagian dari kalender pariwisata Provinsi Riau.

Kegiatan ini biasanya menarik ribuan penonton, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Tahun ini, dengan adanya tren Aura Farming, pengujung diperkirakan akan meningkat.

Untuk informasi lebih lanjut tentang jadwal dan kegiatan Pacu Jalur 2025, masyarakat dapat mengunjungi akun media sosial resmi Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi atau situs web pariwisata Provinsi Riau. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.