Jakarta

Bukan Cuma Melihat Kain, 4 Museum Ini Bisa Jadi Cara Menelusuri Sejarah Batik Indonesia

Anggerhana Denni Rahmawati | 2 Oktober 2026, 17:45 WIB
Bukan Cuma Melihat Kain, 4 Museum Ini Bisa Jadi Cara Menelusuri Sejarah Batik Indonesia
Menyusuri sejarah kain batik nusantara dari masa ke masa. - alodiatour.com

AKURAT JAKARTA - Setiap 2 Oktober, Hari Batik Nasional menjadi pengingat bahwa batik bukan sekadar kain dengan motif yang indah.

Di balik setiap coraknya terdapat teknik, filosofi, sejarah, dan pengaruh budaya yang berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Salah satu cara untuk mengenal perjalanan tersebut adalah mengunjungi museum batik.

Menariknya, setiap museum memiliki cerita yang berbeda, mulai dari upaya menyelamatkan tradisi membatik hingga koleksi kain yang merekam pertemuan berbagai budaya.

1. Museum Batik Yogyakarta

Museum Batik Yogyakarta lahir dari kegelisahan terhadap perubahan seni batik pada 1960-an.

Hadi Nugroho dan istrinya, Dewi Sukaningsih, melihat perkembangan teknik printing dalam industri tekstil mulai mengurangi sejumlah kaidah dalam seni membatik.

Museum ini kemudian diresmikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pada 1979.

Selain menyimpan koleksi, Museum Batik Yogyakarta juga memiliki klinik perawatan dan konservasi batik.

Koleksinya berasal dari berbagai daerah dan tradisi, seperti Yogyakarta, Solo, Semarang, Pekalongan, Cirebon, Lasem, Madura, Klaten, Kebumen, Kulon Progo, hingga Imogiri.

Baca Juga: Sebelum Jadi Sekolah Negeri, 6 Sekolah Ini Punya Jejak Panjang Sejak Zaman Kolonial

Artinya, kunjungan ke museum ini bukan hanya melihat kain, tetapi juga mengikuti perjalanan beragam motif dan teknik batik dari berbagai wilayah.

2. Museum Batik Indonesia, Jakarta

Jika Museum Batik Yogyakarta berangkat dari kegelisahan terhadap perubahan tradisi, Museum Batik Indonesia memiliki latar yang berkaitan dengan pengakuan batik di tingkat dunia.

Museum yang berada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, didirikan setelah Batik Indonesia masuk dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity UNESCO pada 2 Oktober 2009.

Museum ini menyimpan lebih dari 800 koleksi batik dari berbagai masa.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.