Jakarta

Asal Usul Batuampar Jakarta, Kisah Permintaan Pangeran dan Gadis Desa

Mohammad Tegar Tsabitul Azmi | 4 September 2023, 16:04 WIB
Asal Usul Batuampar Jakarta, Kisah Permintaan Pangeran dan Gadis Desa

AKURAT.CO - Kelurahan Batuampar merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur.

Batuampar dikenal sebagai bagian dari kawasan Condet, bahkan bisa disebut Condet Batuampar.

Wilayah ini di sebelah barat berbatasan dengan wilayah Kelurahan Balekambang (lengkapnya Condet Balekambang), yang dalam sejarahnya berkaitan satu dengan lain.

Baca Juga: 10 Tips Mengatasi Oversharing

Dilansir dari laman Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, ada legenda yang melekat pada nama tempat tersebut, menurut Ran Ramelan, penulis buku kecil berjudul Condet.

Pada jaman dahulu ada sepasang suami isteri, namanya Pangeran Geger dan Nyai Polong, memiliki beberapa orang anak. Salah seorang anaknya, perempuan, diberi nama Siti Maemunah, terkenal sangat cantik.

Waktu Maemunah sudah dewasa dilamar oleh Pangeran Tenggara atau Tonggara asal Makasar yang tinggal di sebelah timur Condet, untuk salah satu anaknya, bernama Pangeran Astawana.

Baca Juga: Cekcok Mulut, Teman Ditusuk hingga Tewas di Karawaci Tangerang

Orang tua Maemunah bersedia mengawinkan anaknya asal dibangunkan sebuah rumah dan sebuah tempat bersenang-senang di atas empang, dekat kali Ciliwung, yang harus selesai dalam waktu satu malam.

Permintaan itu disanggupi, dan terbukti, menurut sohibul hikayat, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale di sebuah empang di pinggir kali Ciliwung, dengan jalan yang diampari batu, mulai dari tempat kediaman keluarga Pangeran Tenggara.

Demikianlah menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu itu selanjutnya disebut Batuampar, dan bale (balai) peristirahatan yang seolah-olah mengambang di atas air kolam dijadikan nama tempat, Balekambang.

Baca Juga: Jangan Lupa Surat Kendaraan, Mulai Hari Ini Polisi Gelar Operasi Zebra 2023

Pada awal abad keduapuluh di Batu ampar terdapat perguruan silat yang dipimpin antara lain oleh Maliki dan Modin (Poesponegoro, 1984, IV:295).

Pada tahun 1986, seorang guru silat di Batuampar, Saaman, terpilih sebagai salah seorang tenaga pengajar ilmu bela diri itu di Negeri Belanda, selama dua tahun, kemahiran Saaman sebagai pesilat, sehingga terpilih menjadi pengajar di negara itu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.