Jakarta

Zikir Jadi Terapi Sufistik Berbasis Afeksi yang Relevan dengan Isu Kesehatan Mental Gen Z

Ainun Kusumaningrum | 31 Oktober 2025, 23:09 WIB
Zikir Jadi Terapi Sufistik Berbasis Afeksi yang Relevan dengan Isu Kesehatan Mental Gen Z

AKURAT JAKARTA – Mahasiswi semester V Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Azrianti Ishamiyah, berhasil menembus panggung ilmiah internasional.

Dia tampil sebagai presentator muda pada Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) ke-24 tahun 2025.

AICIS+, yang mempertemukan lebih dari 2.400 akademisi dari 31 negara, diselenggarakan di Universitas Islam Indonesia Internasional (UIII) Depok, pada 29–30 Oktober 2025, dengan mengusung tema "Islam, Ecotheology, and Technology Transformation".

Baca Juga: Banyak Keluhan dari Warga, Golkar Dorong Pemprov DKI Perbarui Armada Pengangkut Sampah

Azrianti hadir membawa risetnya yang berjudul “Dhikr Soundscape as Affective Landscape: Decolonizing Sufi Psychotherapy for Digital Generation’s Crisis of Meaning.”

Riset tersebut secara khusus menggali dimensi zikir sebagai terapi sufistik berbasis afeksi yang dinilai kontekstual untuk menjawab krisis makna dan isu kesehatan mental di kalangan generasi digital (Gen Z).

“Melalui pendekatan fenomenologi kritis, saya mencoba menunjukkan bahwa spiritualitas Islam mampu menawarkan terapi yang reflektif dan humanistik bagi manusia modern,” papar Azrianti, Kamis (30/10/2025).

Baca Juga: Sejumlah Rute Transjakarta Alami Keterlambatan dan Penyesuaian Pasca Hujan Malam Ini, Berikut Daftar Rutenya

Dia menambahkan, melalui riset, nilai-nilai spiritual Islam dapat dibawa ke ruang-ruang dialog akademik dunia.

Mahasiswi penerima Bright Scholarship YBM Brilian ini mengaku, keberaniannya untuk mengirimkan tulisan ke forum yang biasa diikuti peneliti besar ini bermula dari tantangan kelas menulis ilmiah di bawah bimbingan Prof. Ris’an Rusli.

Setelah tiga bulan proses penelitian dan revisi intensif, ia bersama rekannya berhasil meneliti praktik zikir sebagai soundscape yang membentuk lanskap afektif spiritual.

Azrianti menutup dengan pesan, bahwa support system keluarga, khususnya doa dari ibunda tercinta, merupakan pondasi spiritual yang memberi arah dan kekuatan dalam setiap langkah perjuangan ilmiahnya. (*)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.