252 Siswa di Cakung Keracunan MBG, Dinkes DKI Ungkap Sejumlah Pelanggaran oleh SPPG Pulogebang

AKURAT JAKARTA - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengungkapkan penyebab 252 siswa di Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulogebang.
Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi lapangan menunjukkan adanya sejumlah pelanggaran terhadap prinsip higiene dan sanitasi pangan.
"Terdapat ketidaksesuaian pada penerapan higiene dan sanitasi pada aspek tempat, penjamah pangan, serta handling bahan dan peralatan, sehingga meningkatkan risiko terjadinya cemaran terhadap pangan," ujar Ani dalam keterangan resminya, Kamis (14/5/2026).
Menurutnya, hasil laboratorium menemukan cemaran mikrobiologi pada pangan siap saji yang dikonsumsi para siswa.
Berdasarkan pola temuan tersebut, Dinkes menyimpulkan bahwa keracunan kemungkinan besar dipicu oleh kombinasi beberapa faktor.
Faktor utama yang ditemukan adalah praktik time-temperature abuse, yakni makanan matang dibiarkan terlalu lama sebelum dikonsumsi.
"Terjadinya time-temperature abuse, yaitu jarak waktu antara makanan matang hingga dikonsumsi melebihi batas aman (>4 jam) akibat proses pengolahan dimulai terlalu dini," tuturnya.
Selain itu, lanjut Ani, menu yang disajikan berupa bakmi Jawa dan pangsit tahu berkuah tergolong makanan berisiko tinggi karena mudah rusak jika tidak disimpan pada suhu yang tepat.
Investigasi juga menemukan dugaan penggunaan bahan pangan yang kualitasnya telah menurun, khususnya tahu yang diterima dalam kondisi asam.
Di sisi lain, proses pengolahan mie basah tidak melalui tahap perebusan, sehingga diduga tidak mencapai suhu yang cukup untuk menekan jumlah mikroorganisme.
"Pangan matang juga diduga mengalami rekontaminasi, ditambah sanitasi yang kurang optimal selama proses pengolahan," kata Ani.
Dinkes DKI menegaskan, hasil investigasi ini menjadi dasar untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur operasional di SPPG Pulogebang, agar kejadian serupa tidak terulang.
Diketahui, Ani mengungkapkan SPPG Pulo Gebang belum memiliki SLHS. Meski begitu, menurutnya, dapur tersebut masih berada dalam masa tenggang pengurusan sertifikat.
SPPG Pulo Gebang diketahui mulai beroperasi sejak 30 Maret 2026. Sesuai ketentuan dari Badan Gizi Nasional (BGN), setiap SPPG diberi waktu maksimal tiga bulan sejak mulai beroperasi untuk mengurus sertifikat higiene sanitasi.
"SPPG Pulo Gebang masih dalam proses. Kami sudah melakukan visitasi dan penjamah makanannya dijadwalkan mengikuti pelatihan pada 13 Mei," kata Ani. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1POTRET BERINGIN JAKARTA: Dari Pengurus Pokja ke Pimpinan DPRD, Basri Baco Targetkan 13 Kursi dan Tiket Cagub DKI
- 2Prediksi Skor Parma vs Udinese di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Keluar dari Tren Buruk
- 3Prediksi Skor Freiburg vs Wolfsburg di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Buruk?
- 4Prediksi Skor Bournemouth vs Aston Villa di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Duel Dua Tim yang Sedang Panas
- 5Prediksi Skor Fulham vs Crystal Palace di Carabao Cup, 29 Oktober 2026: Momentum Kebangkitan Tuan Rumah Diuji
- 6Prediksi Skor AC Monza vs Napoli di Serie A, 29 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Partenopei di Markas Brianzoli
- 7Prediksi Skor SC Paderborn vs Stuttgart di DFB-Pokal, 29 Oktober 2026: Kesempatan Tuan Rumah Membalas Kekalahan
- 8Prediksi Skor Bayer Leverkusen vs Stuttgart di Bundesliga, 31 Oktober 2026: Mampukah Die Werkself Pertahankan Rekor Sempurna?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!




