Kuliah Tinggi, Kerja Tak Sesuai Ijazah: Fenomena Ini Dialami Jutaan Lulusan Sarjana Indonesia

AKURAT JAKARTA - Memiliki gelar sarjana ternyata belum otomatis membuat seseorang mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan tingkat pendidikannya.
Di Indonesia, persoalan yang dihadapi lulusan perguruan tinggi bukan hanya sulit mendapatkan pekerjaan, tetapi juga ketika pekerjaan yang tersedia tidak membutuhkan kompetensi setara dengan pendidikan mereka.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menemukan sekitar 8 juta lulusan sarjana bekerja pada pekerjaan yang membutuhkan tingkat pendidikan lebih rendah dari yang mereka miliki.
Fenomena tersebut dikenal sebagai overeducation.
Kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara jumlah tenaga kerja berpendidikan tinggi dengan ketersediaan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan pada tingkat tersebut.
Masalahnya menjadi semakin menarik karena bidang studi yang banyak ditemukan di antara pengangguran lulusan S1 justru berasal dari jurusan yang cukup populer.
Berdasarkan analisis Sakernas Agustus 2025, lima bidang studi dengan porsi terbesar secara bersama-sama mencakup sekitar 40 persen dari pengangguran berpendidikan minimal S1.
Manajemen berada di posisi pertama dengan porsi 10,3 persen.
Berikutnya terdapat hukum sebesar 9 persen, ekonomi 8,7 persen, pendidikan 7,1 persen, dan akuntansi 5,1 persen.
Namun, data tersebut tidak berarti lulusan dari jurusan-jurusan tersebut memiliki tingkat pengangguran paling tinggi.
Baca Juga: Bukan Cuma Upacara di Istana, Monas Bakal Siapkan Pesta Rakyat Seharian Penuh
LPEM FEB UI menegaskan bahwa angka tersebut merupakan proporsi bidang studi di antara kelompok pengangguran S1, bukan perbandingan risiko menganggur setiap jurusan.
Meski begitu, temuan tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi bidang studi dengan jumlah lulusan besar.
Manajemen, misalnya, memiliki cakupan pekerjaan yang luas, mulai dari pemasaran, sumber daya manusia, keuangan hingga pengelolaan organisasi.
Luasnya bidang pekerjaan ternyata tidak otomatis membuat persaingan menjadi lebih mudah.
Pada posisi awal, lulusan manajemen harus berhadapan dengan lulusan dari berbagai bidang lain seperti hukum, ekonomi, komunikasi, dan rumpun bisnis lainnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor Kepulauan Faroe vs Kazakhstan di UNL, 26 September 2026: Tuan Rumah Punya Modal Kandang Kuat
- 2Prediksi Skor Islandia vs Estonia di UNL, 26 September 2026: Tuan Rumah Incar Awal Positif
- 3Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di UNL, 25 September 2026: Dapatkah Khvicha Kvaratskhelia Menjadi Pembeda?
- 4Prediksi Skor Armenia vs Latvia di UNL, 25 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Tanpa Kemenangan?
- 5Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UNL, 27 September 2026: Duel Seru di Kaunas!
- 6Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di UNL, 26 September 2026: Mampukah The Brave Falcons Lanjutkan Tren Positif?
- 7Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg di UNL, 26 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Amankan Kemenangan Perdana?
- 8Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di UNL, 27 September 2026: Mampukah The Falcons Raih Kemenangan di Kandang Sendiri?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





