Jakarta

Saat Guncangan Berhenti, 5 Ancaman Ini Justru Mengintai Korban Gempa

Anggerhana Denni Rahmawati | 20 Agustus 2026, 07:30 WIB
Saat Guncangan Berhenti, 5 Ancaman Ini Justru Mengintai Korban Gempa
Bahaya gempa ternyata tak berakhir saat tanah berhenti berguncang.

AKURAT JAKARTA - Gempa bumi tidak hanya meninggalkan kerusakan bangunan.

Setelah guncangan berhenti, masyarakat di wilayah terdampak masih harus menghadapi berbagai risiko kesehatan, terutama ketika mereka harus tinggal di pengungsian dengan kondisi terbatas.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dampak kesehatan akibat gempa dapat muncul dalam jangka pendek maupun panjang.

Risikonya bukan hanya luka akibat reruntuhan, tetapi juga penyakit menular dan gangguan kesehatan mental.

Luka dan Cedera Bisa Berujung Infeksi

Luka menjadi salah satu masalah yang paling cepat muncul setelah gempa.

Pecahan kaca, reruntuhan, hingga puing bangunan dapat menyebabkan cedera pada warga maupun petugas.

Jika tidak segera dibersihkan dan ditangani, luka yang terkontaminasi bakteri dapat mengalami infeksi.

Dalam kondisi tertentu, luka juga dapat meningkatkan risiko penyakit seperti tetanus.

Pengungsian Padat Tingkatkan Risiko Penyakit Pernapasan

Baca Juga: Jangan Dulu Naik Gunung Gede, Jalur Masih Ditutup meski Kebakaran Sudah Padam

Reruntuhan bangunan dapat menghasilkan debu dan partikel yang mengganggu saluran pernapasan.

Risiko tersebut dapat dialami penyintas maupun petugas yang berada di lokasi bencana.

Kondisi pengungsian yang padat juga membuat penyakit pernapasan lebih mudah menular.

Banyaknya orang dalam satu ruangan memungkinkan penyebaran infeksi berlangsung lebih cepat.

Air Bersih dan Sanitasi Jadi Persoalan

=====

Kerusakan jaringan air dan fasilitas sanitasi membuat warga kesulitan mendapatkan air yang aman untuk minum, memasak, dan membersihkan diri.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko diare dan penyakit saluran pencernaan lainnya.

Sanitasi yang buruk juga membuat kontaminasi makanan dan air lebih mudah terjadi di lokasi pengungsian.

Nyamuk Bisa Membawa Ancaman Lain

Genangan air akibat kerusakan infrastruktur dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Baca Juga: Jalan Setu Babakan Diperbaiki, Politisi Golkar Minta Penataan UMKM Jadi Pekerjaan Berikutnya

Warga yang harus tidur atau beraktivitas di luar ruangan juga lebih rentan terkena gigitan.

Di wilayah tertentu, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko malaria yang ditularkan melalui nyamuk Anopheles.

Karena itu, penggunaan kelambu dan perlindungan dari gigitan nyamuk menjadi penting bagi penyintas.

Trauma Pascagempa Tak Boleh Diabaikan

Selain kondisi fisik, korban gempa juga dapat mengalami gangguan kesehatan mental.

Kehilangan rumah, keluarga, pekerjaan, maupun ketidakpastian mengenai masa depan dapat memicu kecemasan, stres, gangguan tidur, hingga trauma.

WHO mencatat bahwa situasi darurat dapat menimbulkan tekanan psikologis bagi banyak orang yang terdampak.

Karena itu, pemulihan pascagempa tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah dan fasilitas umum.

Ketersediaan air bersih, makanan bergizi, sanitasi, layanan kesehatan, dan dukungan psikologis juga perlu menjadi perhatian.

Dengan begitu, penyintas tidak hanya terbebas dari ancaman gempa, tetapi juga terlindungi dari masalah kesehatan yang dapat muncul setelah bencana. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.