Jakarta

AI Mulai Lakukan Serangan Siber Tanpa Banyak Campur Tangan Manusia, Taiwan Jadi Sasarannya

Anggerhana Denni Rahmawati | 20 Agustus 2026, 16:45 WIB
AI Mulai Lakukan Serangan Siber Tanpa Banyak Campur Tangan Manusia, Taiwan Jadi Sasarannya
Ilustrasi. Kasus Taiwan ungkap wajah baru serangan siber.

AKURAT JAKARTA - Serangan siber selama ini identik dengan peretas yang mencari celah, mencoba masuk ke sistem, lalu berpindah dari satu target ke target lainnya.

Namun, kasus yang terdeteksi di Taiwan menunjukkan pola yang mulai berubah.

Perusahaan keamanan siber asal Israel, Dream, menemukan serangan yang disebut sebagai salah satu contoh awal serangan siber berbasis AI yang mampu menjalankan rangkaian aksi secara otonom dengan campur tangan manusia yang sangat minim.

Serangan tersebut berlangsung sekitar empat hari dan dilaporkan menyasar sekitar 85 akun pemerintah Taiwan.

Lebih dari 2.500 data pegawai disebut berhasil dicuri.

Target kemudian meluas ke badan pengawas keselamatan nuklir Taiwan dan sedikitnya tujuh perusahaan energi.

Hal yang membuat kasus ini berbeda bukan hanya penggunaan AI, tetapi bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam rangkaian serangan.

Berdasarkan laporan Financial Times, pelaku menggunakan delapan model AI terbuka yang dapat bekerja secara bersamaan.

Peneliti Dream menemukan arsip daring berukuran sekitar 160 MB yang berisi 1.395 file.

Di dalamnya terdapat penggunaan agen AI open source, termasuk Hermes dan OpenClaw.

Baca Juga: Nostalgia Sekaligus Era Baru, The Script Siap Gelar Konser di Jakarta April 2027

Agen tersebut dapat menjalankan berbagai tahapan, mulai dari mencari target, menemukan kelemahan sistem, mencoba mendapatkan akses, hingga mencari alternatif ketika upaya sebelumnya gagal.

Dengan sistem tersebut, AI tidak harus menunggu manusia memberikan instruksi untuk setiap langkah.

Ketika satu metode menemui hambatan, agen dapat mencoba pendekatan lain.

Pola inilah yang membuat serangan menjadi lebih sulit dipantau.

Menariknya, serangan tersebut tidak disebut memanfaatkan zero-day atau celah keamanan baru yang sebelumnya tidak diketahui.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.