Jakarta

Bukan Cuma Soal Sekolah Diliburkan, Kabut Asap dari Karhutla Kalimantan juga Bisa Ganggu Psikologis Anak

Anggerhana Denni Rahmawati | 22 Agustus 2026, 19:15 WIB
Bukan Cuma Soal Sekolah Diliburkan, Kabut Asap dari Karhutla Kalimantan juga Bisa Ganggu Psikologis Anak
Karhutla di Kalimantan.

AKURAT JAKARTA - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) membuat aktivitas ribuan murid di sejumlah wilayah Kalimantan berubah.

Sekolah yang biasanya menjadi tempat belajar, bermain, dan berinteraksi harus beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) demi keselamatan.

Namun, persoalan yang muncul tidak berhenti pada terganggunya kegiatan belajar.

Situasi bencana juga dapat memberikan tekanan psikologis bagi anak, terutama ketika mereka harus menghadapi perubahan rutinitas secara tiba-tiba dan berada dalam lingkungan yang tidak biasa.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan layanan psikososial bagi murid dan warga sekolah yang membutuhkan dukungan selama kondisi darurat Karhutla.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) per 11 Agustus 2026, sebanyak 3.524 satuan pendidikan dengan 571.338 murid telah terdampak penerapan PJJ akibat kabut asap.

PJJ diterapkan di sejumlah wilayah, antara lain Kalimantan Barat, Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Kayong Utara, Kota Palangka Raya, Kabupaten Kotawaringin Timur, dan Kota Banjarbaru.

Dalam psikologi, rutinitas memiliki peran penting bagi anak karena memberikan struktur dan rasa dapat diprediksi dalam kehidupan sehari-hari.

Sekolah bukan hanya tempat menerima pelajaran, tetapi juga ruang bagi anak untuk bertemu teman, berinteraksi dengan guru, bermain, dan menjalankan aktivitas yang relatif teratur.

Ketika Karhutla membuat sekolah harus menerapkan PJJ, sebagian rutinitas tersebut berubah secara mendadak.

Baca Juga: Nasib PPPK Paruh Waktu Mulai Terjawab, Status Penuh Menanti pada 2027

Anak harus belajar dari rumah, membatasi aktivitas di luar ruangan, sekaligus menghadapi pemberitaan atau pembicaraan orang dewasa mengenai bencana dan kualitas udara.

Fenomena ini dapat berkaitan dengan disaster-related stress, yaitu tekanan psikologis yang dapat muncul ketika seseorang menghadapi atau terdampak situasi bencana.

Pada anak, respons tersebut tidak selalu terlihat sebagai kecemasan yang jelas.

Perubahan perilaku, sulit berkonsentrasi, mudah marah, kehilangan semangat belajar, atau menjadi lebih pendiam juga dapat menjadi tanda bahwa anak sedang mengalami tekanan.

Karena itu, menjaga keberlangsungan pendidikan selama bencana tidak cukup hanya dengan memastikan materi pelajaran tetap diberikan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.