Jakarta

Antropologi hingga Ilmu Komputer, Ini 10 Jurusan dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi

Anggerhana Denni Rahmawati | 29 September 2026, 13:30 WIB
Antropologi hingga Ilmu Komputer, Ini 10 Jurusan dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi
Kuliah di jurusan favorit tak menjamin karier mulus. - Magnific

AKURAT JAKARTA - Jurusan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) kerap dipandang sebagai pilihan menjanjikan karena berkaitan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.

Namun, data pasar kerja Amerika Serikat menunjukkan bahwa gelar di bidang tersebut tidak selalu membuat lulusannya mudah memperoleh pekerjaan.

Laporan Labor Market Outcomes of College Graduates by Major dari Federal Reserve AS memperlihatkan bahwa sejumlah jurusan STEM justru memiliki tingkat pengangguran yang cukup tinggi.

Teknik komputer mencatat angka 7,5 persen, sementara ilmu komputer dan kimia masing-masing mencapai 6,1 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa prospek suatu bidang studi tidak hanya ditentukan oleh popularitasnya.

Kondisi ekonomi, kebutuhan perusahaan, serta kesesuaian keterampilan lulusan dengan pekerjaan yang tersedia turut memengaruhi peluang kerja.

Jurusan Populer Tak Selalu Berbanding Lurus dengan Peluang Kerja

Dalam daftar jurusan dengan tingkat pengangguran tertinggi, antropologi berada di posisi teratas dengan angka 9,4 persen.

Berikutnya adalah fisika sebesar 7,8 persen dan teknik komputer sebesar 7,5 persen.

Seni komersial dan desain grafis mencatat tingkat pengangguran 7,2 persen, disusul seni murni sebesar 7 persen.

Baca Juga: Guru dan Tenaga Kependidikan Wajib Penuhi Standar Baru, Ada Masa Penyesuaian hingga 9 Tahun

Sementara itu, sosiologi mencapai 6,7 persen.

Tingginya angka pengangguran juga terlihat pada beberapa bidang yang berkaitan dengan teknologi.

Ilmu komputer mencatat 6,1 persen, sedangkan sistem informasi dan manajemen sebesar 5,6 persen.

Angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa jurusan-jurusan itu tidak memiliki prospek.

Tingkat pengangguran dapat dipengaruhi oleh kondisi pasar kerja pada periode pengukuran, lokasi, pengalaman, hingga kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan pemberi kerja.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.