Jakarta

Tiru Sistem Sekolah di Jepang, Lebih dari 60 Dapur MBG Ikut Uji Coba Skema Prasmanan

M Rahman Akurat | 14 Oktober 2026, 09:16 WIB
Tiru Sistem Sekolah di Jepang, Lebih dari 60 Dapur MBG Ikut Uji Coba Skema Prasmanan
Uji coba MBG Prasmanan di SMPN 1 Cianjur, Jawa Barat. (Dok.Bakom)

AKURAT JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) resmi memulai uji coba penyajian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di kelas sejak 5 Oktober 2026.

Langkah inovatif ini diambil untuk memastikan para siswa sebagai penerima manfaat dapat menikmati hidangan dalam kondisi yang lebih hangat, segar, dan berkualitas tinggi.

Kepala BGN, Sudaryono, menjelaskan bahwa uji coba ini bertujuan untuk melihat efektivitas penyajian sekaligus menjaga kualitas nutrisi makanan. Melalui skema baru ini, makanan tidak lagi dibagikan dalam porsi individual yang tertutup, melainkan disajikan secara prasmanan langsung di dalam ruang kelas.

Baca Juga: Ini Makna Filosofi "Terus Bergerak, Semakin Berdampak" di HUT ke-394 Kabupaten Tangerang

Meniru Sistem Dapur Sekolah di Jepang

Model prasmanan ini mengadopsi sistem penyediaan makan sekolah berbasis central kitchen yang sukses diterapkan di Jepang.

Dengan metode ini, makanan tetap diproduksi di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), lalu dikirim ke sekolah dalam kondisi prima untuk langsung disajikan.

“Di tanggal 5 Oktober kita sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi, makanan dibawa hangat-hangat ke kelas, kemudian disajikan di kelas,” ujar Sudaryono.

Baca Juga: Gak Ada Lawan! Jetour T2 i-DM Siap Ramaikan Pasar Otomotif Tanah Air dengan Desain Maskulin, Bikin SUV Jepang Lari Ketakutan!

Pangkas Jeda Waktu Masak dan Konsumsi

Salah satu tantangan utama dalam program MBG massal adalah menjaga suhu dan kesegaran makanan. Sistem prasmanan ini dinilai menjadi solusi strategis untuk memperpendek jeda waktu antara proses memasak di dapur SPPG hingga siap santap di meja makan siswa.

Meski uji coba yang melibatkan lebih dari 60 dapur SPPG di berbagai daerah ini berjalan positif, BGN menegaskan bahwa sistem prasmanan tidak serta-merta langsung diterapkan di seluruh sekolah.

BGN saat ini masih melakukan evaluasi menyeluruh secara berkala. Evaluasi ini penting untuk melihat kesiapan logistik dan operasional sebelum memutuskan apakah skema prasmanan ramah anak ini dapat diimplementasikan secara lebih luas di seluruh Indonesia.

BGN berharap sistem itu membuat makanan yang diterima siswa menjadi lebih segar dan tetap hangat ketika disantap.

“Kita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih segar karena tidak ada delay waktu,” ujar Sudaryono.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.