Jakarta

63 Ribu Balita Terserang ISPA di Tengah Karhutla, Kabut Asap Jadi Ancaman bagi Anak

Anggerhana Denni Rahmawati | 18 Oktober 2026, 16:15 WIB
63 Ribu Balita Terserang ISPA di Tengah Karhutla, Kabut Asap Jadi Ancaman bagi Anak
Ilustrasi puluhan ribu balita terdampak ISPA akibat karhutla.

AKURAT JAKARTA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat.

Di tengah penyebaran asap ke sejumlah wilayah, anak-anak menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus karena paparan polusi udara dapat mengganggu kesehatan pernapasan mereka.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi yang terdampak karhutla selama Agustus hingga 13 Oktober 2026.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 63.711 kasus dialami anak berusia 0–5 tahun, sedangkan 219.559 kasus lainnya terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun.

Data tersebut menunjukkan besarnya beban gangguan pernapasan di tengah kondisi udara yang memburuk.

Bagi keluarga yang tinggal di wilayah terdampak, asap karhutla bukan sekadar gangguan aktivitas sehari-hari, melainkan juga ancaman yang perlu diantisipasi.

Puluhan Ribu Balita Mengalami ISPA

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, menyampaikan bahwa kasus ISPA masih ditemukan dalam jumlah besar.

Hingga 13 Oktober 2026, tercatat 3.897 kasus harian, dengan total kumulatif mencapai 283.270 kasus sejak Agustus.

"Situasi harian hingga hari ini kasus ISPA sebanyak 3.897 hingga 13 Oktober dan secara kumulatif ini ada total 283.270 kasus ISPA," kata Then Suyanti dalam konferensi pers Perkembangan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan Kemenko Polkam RI.

Baca Juga: Beasiswa Pelatihan Literasi Guru SD-SMP Dibuka, Sertifikat Bahasa Inggris Jadi Syarat

Besarnya jumlah kasus pada kelompok balita menjadi perhatian karena anak-anak membutuhkan perlindungan dari paparan asap dan polutan.

Orang tua perlu memperhatikan kondisi anak, terutama ketika muncul gejala seperti batuk, pilek, sesak napas, atau radang tenggorokan.

Jika anak mengalami sesak napas atau gejala yang memburuk, orang tua perlu segera mencari pertolongan medis.

Penggunaan masker dan pengurangan aktivitas di luar ruangan juga dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi paparan asap, terutama saat kualitas udara sedang buruk.

Asap Karhutla Membawa Berbagai Polutan Berbahaya

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.