Jakarta

BEM UI Bawa Lima Tuntutan ke Tugu Tani, dari Status Bencana Nasional Karhutla hingga Biaya Pendidikan

Laode Akbar | 20 Oktober 2026, 16:11 WIB
BEM UI Bawa Lima Tuntutan ke Tugu Tani, dari Status Bencana Nasional Karhutla hingga Biaya Pendidikan
Massa aksi demo di kawasan Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat. (Laode/Akurat Jakarta)

AKURAT JAKARTA – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama sejumlah elemen mahasiswa dan masyarakat sipil menggelar aksi demonstrasi di kawasan Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026).

Berdasarkan pantauan Akurat Jakarta sekitar 15.30 WIB, para massa aksi berkumpul di sekitar patung tugu tani.

Mereka membawa berbagai spanduk kritik yang bertuliskan seperti "2 Tahun Program Cacat" dan "Banyak Asap Disana Pejabat Party Di Istana".

Dalam aksi tersebut, mereka membawa lima tuntutan yang mencakup penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), ketimpangan sosial, hingga persoalan pendidikan.

Baca Juga: Greenpeace Bentangkan Spanduk Kritik Krisis Iklim di Bundaran HI, Gubernur Pramono: Jangan Ganggu Ketertiban!

Wakil Ketua BEM UI 2026, Fathimah Azzahra, mengatakan aksi tersebut merupakan agenda kedua yang digelar dengan membawa sejumlah persoalan yang dinilai masih membutuhkan perhatian pemerintah.

"Hari ini BEM UI bersama dengan BEM universitas lainnya, dan bersama dengan komponen-komponen masyarakat juga, ingin mengadakan aksi di Tugu Tani," kata Fathimah saat ditemui di lokasi, Selasa (20/10/2026).

Fathimah menjelaskan, tuntutan pertama yang dibawa dalam aksi tersebut adalah penetapan karhutla sebagai bencana nasional sekaligus pemulihan ekosistem yang terdampak.

Tuntutan ini menjadi salah satu perhatian mahasiswa di tengah persoalan kebakaran hutan dan lahan yang membutuhkan penanganan serta pemulihan lingkungan.

Tuntutan kedua berkaitan dengan pembenahan tata kelola kebijakan ekonomi untuk memberantas ketimpangan sosial.

Baca Juga: Ada Demo BEM UI, Dishub DKI Imbau Warga Hindari 6 Titik Wilayah Ini, Berikut Rute Alternatifnya

Menurut Fathimah, persoalan kesenjangan masih menjadi masalah yang perlu diselesaikan.

"Dan yang kedua, juga untuk membenahi tata kelola kebijakan ekonomi untuk memberantas ketimpangan sosial yang sampai hari ini kita masih lihat," ujarnya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.