Jakarta

Sejarah Jakarta: Asal Usul Pondok Ranggon dan Kisah Kehidupan Sepasang Kakek Nenek

Mohammad Tegar Tsabitul Azmi | 13 November 2023, 13:26 WIB
Sejarah Jakarta: Asal Usul Pondok Ranggon dan Kisah Kehidupan Sepasang Kakek Nenek

AKURAT JAKARTA - Pondok Ranggon merupakan satu dari kelurahan yang ada di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, yang cukup populer dan strategis. 

Kelurahan ini menjadi salah satu kawasan terluar timur Jakarta, kerena berbatas dengan Depok dan Bekasi. 

Ada dua versi sejarah yang menceritakan asal usul Pondok Ranggon yang berkaitan dengan keberadaan sepasang kakek dan nenek. 

Baca Juga: Sejarah Jakarta: Asal Usul Duren Tiga Berkaitan dengan Pohon Durian dan Pabrik Korek

Pondok Ranggon memiliki luas sekitar 366,015 Ha, berada di ketinggian 55 sampai 91 mdpl dam merupakan kelurahan tertinggi di DKI Jakarta.

Kawasan ini dulu cukup kental dengan kebudayaan Sunda, seperti kesenian, kesenian, dan sebagainya. Ini pun berkaitan dengan asal usul Pondok Rangon sendiri. 

Versi pertama menyebut bahwa dahulu di kawasan tersebut kakek dan nenek yang tidak memiliki ikatan pernikahan hidup bersama.

Baca Juga: Sejarah Jakarta: Asal Usul Pisangan Baru Berkaitan dengan Pohon Pisang

Dan di budaya Sunda kehidupan mereka disebut dengan Rangon.

Kakek dan nenek itu tinggal di sebuah pondok. Karena itulah kemudian menyebut dan menamai kawasan itu dengan Pondok Rangon. 

Versi kedua menyebut bahwa seorang kakek sakti hidup di kawasan tersebut bersama seorang nenek, namun tidak memiliki ikatan pernikahan. 

Baca Juga: Perdana di Indonesia, Ini 5 Fakta Persiapan Konser Musik Coldplay

Sang pemilik rumah memiliki sebutan Mbah Santri dan memiliki kesaktian dapat berubah wujud menjadi laki-laki atau perempuan. 

Mereka tinggal sebuah rumah panggung yang memiliki tinggi sekitar dua meter. Rumah itu kemudian disebut Rangon oleh masyarakat sekitar. 

Kini, kawasan tersebut mengalami perkembangan yang pesat dan menjadi salah satu kawasan pemukiman penduduk. 

Kendati demikian, konon, rumah yang dulu ditinggali oleh Mbah Santri masih berdiri kokoh hingga saat ini dan dijadikan salah satu cagar budaya. (*) 

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.