Jakarta

Selain Karena Dibully, Rekan Seperjuangan Dokter PPDS Anestesi yang Bunuh Diri di Kamar Kos, Ungkap Jam Jaga yang Tak Masuk Akal

Titania Isnaenin | 15 Agustus 2024, 12:04 WIB
Selain Karena Dibully, Rekan Seperjuangan Dokter PPDS Anestesi yang Bunuh Diri di Kamar Kos, Ungkap Jam Jaga yang Tak Masuk Akal

AKURAT JAKARTA - Sebuah akun media sosial X bernama @bambangsuling*** ungkap fakta lain atas meninggalnya ARL alias Aulia Risma Lestari.

Rekan mahasiswi yang merupakan dokter PPDS Anestesi Undip di RSUP Kariadi Semarang itu ungkap jam jaga yang tak masuk akal.

Melalui akun Instagram X @bambangsuling** tersebut, ia membeberkan jam jaga dalam satu hari yang harus ditempuh dokter residen Anestesi. 

Baca Juga: Bunuh Diri Karena Tak Kuat Dibully Senior, Mahasiswi PPDS Anestesi Undip Tenyata Ingin Berhenti Sejak Awal Semester

"Jam kerja "normal" tanpa giliran jaga adalah 18 jam per hari, masuk jam 6 pagi, pulang jam 12 malam. Kalau bisa pulang jam 11 malam artinya pulang cepat. Tidak jarang harus pulang jam 2 atau 3 pagi. Hari berikutnya sudah harus standby lagi jam 6 pagi di RS. Ini berlangsung terus menerus selama masa studi 5 tahun. " tulis akun @bambangsuling** dikutip pada Kamis (15/8) .

Lebih lanjut, ia menjelaskan jika mendapat giliran jaga, dokter PPDS anonim tersebut ungkap minimal jam jaga selama 24 jam.

Namun tentunya konsekuensi mendapat prolong 5-6 hari untuk jaga di RS alias tidak pulang. 

Baca Juga: Dokter PPDS Bunuh Diri, Kemenkes Hentikan Sementara Program Studi Anestesi Undip

"Jika dapat giliran jaga, maka jaga minimal 24 jam dan dapat prolonged 5-6 hari tidak bisa pulang dari RS. Dikarenakan seringkali PPDS harus melanjutkan operasi yang terus sambung menyambung melebihi giliran jaganya" lanjutnya.

Ini memang dilakukan lantaran jam jaga di RSUP Kariadi Semarang sangat tinggi.

Baca Juga: Dokter PPDS Anestesi Undip Bunuh Diri dengan Cara Menyuntikan Obat Penenang, Polisi Ungkap Adanya Indikasi Bully

Belum lagi semua beban kerja bius pasien dibebankan pada dokter PPDS.

"Jumlah operasi di RS Kariadi sangat tinggi bisa 120 pasien/hari. Sedangkan semua beban kerja bius pasien dilakukan oleh PPDS" tegasnya.

Viralnya pemberitaan PPDS Anestesi Undip ini dipicu oleh meninggalnya mahasiswi PPDS yang ditemukan terkapar di kamar kosnya.

Korban diduga bunuh diri usai mendapat perundungan dari para senior.

Kapolsek Gajahmungkur Semarang, Agus Hartono ungkap adanya indikasi bully yang diterima korban dari seniornya.

Yakni dibuktikan dengan ditemukannya buku catatan harian ARL di kamar kos. 

“Anak itu sudah minta resign, keterangan dari ibunya, sudah curhat. Kedua (penyebab) mungkin menghadapi seniornya, kan perintahnya (senior) sewaktu-waktu, minta ini, itu, ini, itu, keras,” ujar Kompol Agus Hartono, Kapolsek Gajahmungkur Semarang.

Karena tak kuat, ARL diduga nekat menyuntikkan obat penenang untuk mengakhiri hidupnya sendiri. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.