Selain Karena Dibully, Rekan Seperjuangan Dokter PPDS Anestesi yang Bunuh Diri di Kamar Kos, Ungkap Jam Jaga yang Tak Masuk Akal

AKURAT JAKARTA - Sebuah akun media sosial X bernama @bambangsuling*** ungkap fakta lain atas meninggalnya ARL alias Aulia Risma Lestari.
Rekan mahasiswi yang merupakan dokter PPDS Anestesi Undip di RSUP Kariadi Semarang itu ungkap jam jaga yang tak masuk akal.
Melalui akun Instagram X @bambangsuling** tersebut, ia membeberkan jam jaga dalam satu hari yang harus ditempuh dokter residen Anestesi.
"Jam kerja "normal" tanpa giliran jaga adalah 18 jam per hari, masuk jam 6 pagi, pulang jam 12 malam. Kalau bisa pulang jam 11 malam artinya pulang cepat. Tidak jarang harus pulang jam 2 atau 3 pagi. Hari berikutnya sudah harus standby lagi jam 6 pagi di RS. Ini berlangsung terus menerus selama masa studi 5 tahun. " tulis akun @bambangsuling** dikutip pada Kamis (15/8) .
Lebih lanjut, ia menjelaskan jika mendapat giliran jaga, dokter PPDS anonim tersebut ungkap minimal jam jaga selama 24 jam.
Namun tentunya konsekuensi mendapat prolong 5-6 hari untuk jaga di RS alias tidak pulang.
Baca Juga: Dokter PPDS Bunuh Diri, Kemenkes Hentikan Sementara Program Studi Anestesi Undip
"Jika dapat giliran jaga, maka jaga minimal 24 jam dan dapat prolonged 5-6 hari tidak bisa pulang dari RS. Dikarenakan seringkali PPDS harus melanjutkan operasi yang terus sambung menyambung melebihi giliran jaganya" lanjutnya.
Ini memang dilakukan lantaran jam jaga di RSUP Kariadi Semarang sangat tinggi.
Belum lagi semua beban kerja bius pasien dibebankan pada dokter PPDS.
"Jumlah operasi di RS Kariadi sangat tinggi bisa 120 pasien/hari. Sedangkan semua beban kerja bius pasien dilakukan oleh PPDS" tegasnya.
Viralnya pemberitaan PPDS Anestesi Undip ini dipicu oleh meninggalnya mahasiswi PPDS yang ditemukan terkapar di kamar kosnya.
Korban diduga bunuh diri usai mendapat perundungan dari para senior.
Kapolsek Gajahmungkur Semarang, Agus Hartono ungkap adanya indikasi bully yang diterima korban dari seniornya.
Yakni dibuktikan dengan ditemukannya buku catatan harian ARL di kamar kos.
“Anak itu sudah minta resign, keterangan dari ibunya, sudah curhat. Kedua (penyebab) mungkin menghadapi seniornya, kan perintahnya (senior) sewaktu-waktu, minta ini, itu, ini, itu, keras,” ujar Kompol Agus Hartono, Kapolsek Gajahmungkur Semarang.
Karena tak kuat, ARL diduga nekat menyuntikkan obat penenang untuk mengakhiri hidupnya sendiri. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!



