Jakarta

BMKG Ingatkan Fenomena Siklon Tidak Bisa Dimodifikasi, Hanya Bisa Diantisipasi

Yusuf Doank | 31 Januari 2026, 11:06 WIB
BMKG Ingatkan Fenomena Siklon Tidak Bisa Dimodifikasi, Hanya Bisa Diantisipasi

AKURAT JAKARTA — BMKG menegaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tidak memiliki kemampuan untuk mengubah atau menghilangkan fenomena siklon tropis.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa teknologi modifikasi cuaca saat ini hanya mampu berperan dalam memitigasi dampak curah hujan yang ditimbulkan oleh siklon tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Faisal usai menghadiri rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Baca Juga: Jakarta Masih Dikepung Banjir, 29 RT Tergenang, Ratusan Jiwa Bertahan di Pengungsian

Dia menekankan bahwa hingga saat ini belum ada negara di dunia yang mampu melakukan intervensi langsung terhadap pusat kekuatan siklon.

"Satu negara pun belum ada yang mampu melakukan modifikasi cuaca pada bibit siklon atau pusat siklonnya. Namun, wilayah yang terdampak oleh pergerakan siklon tersebut masih bisa kita antisipasi," kata Faisal.

Ia menjelaskan, keberadaan siklon kerap memicu peningkatan curah hujan ekstrem di wilayah sekitarnya.

Baca Juga: Mau Tiket Konser Gratis Bryan Adams? Simak Caranya di Sini

Sebagai langkah preventif, BMKG melakukan modifikasi cuaca di daerah terdampak guna menjaga agar intensitas hujan tetap berada pada batas normal.

Faisal mencontohkan, apabila terjadi siklon di barat daya Lampung, maka intervensi cuaca akan dilakukan di wilayah Lampung, Bengkulu, hingga Banten.

"Langkah ini bertujuan agar bencana hidrometeorologi dapat ditekan. Modifikasi cuaca mampu mengurangi intensitas hujan hingga sekitar 30 persen. Angka ini cukup signifikan untuk mengurangi beban daerah tangkapan hujan," jelasnya.

Namun, Faisal juga menyoroti tantangan lain dalam pengendalian bencana, yakni perubahan tata guna lahan.

Menurutnya, meskipun curah hujan dapat dikendalikan melalui OMC, daya tampung lingkungan yang kian menyusut akibat pembangunan masif menjadi faktor risiko terjadinya banjir dan tanah longsor.

"Tekanan pada lingkungan dan perubahan struktur lahan membuat curah hujan yang sama dengan satu dekade lalu kini lebih berpotensi memicu bencana. Inilah yang coba kita kendalikan melalui sinergi antara operasi modifikasi cuaca dan pengelolaan tata ruang yang lebih baik," pungkas Faisal.(*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.