Jakarta

Clara Wirianda Sosok Seksi yang Ramai Dibicarakan Warganet, Ternyata Jago Analisa Propaganda, Ini Buktinya!

Fikri Hidayatulloh | 8 Januari 2024, 17:17 WIB
Clara Wirianda Sosok Seksi yang Ramai Dibicarakan Warganet, Ternyata Jago Analisa Propaganda, Ini Buktinya!

AKURAT JAKARTA - Influencer dari Medan, Sumatera Utara, bernama Clara Wirianda mendadak menjadi bahan omongan netizen setelah tersebar gosip punya hubungan khusus dengan Wali Kota Medan, Bobby Nasution yang merupakan menantu Presiden Joko Widodo.

Walhasil, foto-foto Clara Wirianda pun menyebar luas di media sosial.

Terlepas dari gosip yang belum terkonfirmasi tersebut, Clara Wirianda sepertinya menggemari dunia seni.

Ini bisa dilihat dari tulisan Clara Wirianda berjudul Analisis Semiotika Propaganda Pada Film the Hater.

Baca Juga: Ini Sosok Wanita Inisial C yang Digosipkan Jadi Selingkuhan Menantu Jokowi, Diduga Seorang Influencer Asal Medan

Tulisan Clara Wirianda ini merupakan skripsinya semasa menempuh pendidikan pada Program Studi S-1 Ilmu Komunikasi Konsentrasi Broadcasting di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

Clara berhasil mempertahankan skripsinya itu di depan tim penguji pada 2021.

Clara mengungkap alasan mengapa mengambil tema analisa semiotika propaganda pada film The hater sebagai penelitian skripsinya tersebut.

Baca Juga: CATAT! Konser Gilga Sahid Besok di Cirebon, Nih Info Lokasinya, Tiket Terjangkau Rp 50 Ribu

Dalam abstraksi, Clara mengatakan, film The Hater relevan dengan kehidupan saat ini.

Clara menyatakan film The Hater mengambil sudut pandang betapa luar biasanya dampak propaganda melalui media internet dan doktrin-doktrin propagandis melalui media film.

Film ini menceritakan tentang lelaki yang bekerja di perusahaan buzzer yang terobesesi dengan sebuah keluarga, dan memiliki kemampuan manipulatif serta mahir dalam menjatuhkan reputasi seseorang.

Dalam melakukan penelitian tersebut, Clara menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis ahli semiotika Charles Sanders Pierce.

Menurut Clara, pendekatan ini yaitu melihat tanda-tanda representamen (ikon, indeks, dan symbol) yang terdapat dalam film The Hater.

Clara berkesimpulan The Hater sebagai film yang sangat baik dan memiliki pesan moral dalam dialog dan gambar.

"Dari film ini, kita dapat belajar agar tidak dengan mudah menelan bulat-bulat infromasi yang kita terima. Kita pun perlu memiliki pondasi prespektif yang kuat sehingga tidak mudah didoktrin," jelas Clara dalam penelitiannya, dikutip Senin (8/1/2024).

Film The Hater berasal Poladia dam disutradarai oleh Jan Komasa.

Film bergenre thriller ini dirilis pada 6 Maret 2020 dan dibintangi oleh aktor/aktris polandia seperti Maciej Musialowski, Vanessa Alexsander, Agata Kulesza, Danuta Stenka, Maciej Stuhr, dan lain lain.

"Awal mula film kita diperkenalkan pada sosok tokoh Tomasz Giemza atau tomek, mahasiswa hukum yang ketahuan melakukan penjiplakan karya sehingga harus dikeluarkan dari universitasnya," kata Clara pada Bab Pendahuluan.

Singkat cerita, Tomek berhasil mendapatkan pekerjaan dalam perusahaan agensi public relation ternama di Polandia dan tidak butuh waktu lama  mendapatkan hati atasan.

"Dengan keahlian menjatuhkan reputasi orang lain dengan berita bohong dan ujaran kebencian lewat dunia maya, Tomek berhasil membuat perushaannya kebanjiran klien baru," terang Clara.

Namun, kata Clara, tindakannya menyebarkan berita bohong serta ujaran kebencian ini berdampak buruk, terlebih lagi saat ia diharuskan menjatuhkan reputasi Pawel Rudnicki seorang politikus yang merupakan lawan politik dari kliennya tersebut.

Bahkan tindakannya juga memakan 5 korban jiwa akibat ulah fatalnya di sosial media.

Dalam film ini, kita ditampilkan sebuah visualisasi dampak sebuah berita hoax yang kita posting di sosial media.

Tomek juga berhasil mempengaruhi seseorang lelaki agar dapat melakukan kerusuhan maupun aksi penembakan saat Pawel sedang melangsungkan kampanye, serta mendatangi acara acara yang dihadiri Pawel dan meminta lelaki tersebut memicu kericuhan pada setiap acara yang dihadiri calon wali kota ini.

Clara memilih melakukan analisa semiotika terhadap The Hater, karena film ini mengorek dampak luar biasa dari tindakan komunikasi propaganda yang disampaikan melalui media internet.

Menurut Clara, doktrin-doktrin yang diberikan oleh sang propagandis (Tomek) berhasil mengambil simpati masyarakat yang terdoktrin.

Film ini jelas menujukan dampak model penyampaian komunikasi melalui wadah komunikasi yang banyak digunakan masyarakat saat ini yaitu media sosial.

Film ini digambarkan Clara mampu membungkus cerita dengan menggambarkan situasi saat terjadinya tindakan propaganda yang mampu mengubah cara pandang kita terhadap sesuatu atau bahkan membujuk kita agar melakukan sesuatu.

"Yang pada dewasa ini, seiring dengan perkembangnya teknologi, tanpa sadar hal seperti ini sering menjadi hal yang lumrah," ungkap Clara. (*) 




Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.