Bukan Kepentingan Politik, Legislator Golkar Sardy Minta Penetapan Zonasi Wilayah Jakarta Berdasarkan Realitas Lapangan

AKURAT JAKARTA – Wakil Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Sardy Wahab, menegaskan bahwa penetapan zonasi tanah di Jakarta harus didasarkan pada kondisi riil di lapangan, bukan semata-mata hasil dari kepentingan politik.
Sardy menilai, kebijakan zonasi yang tidak berpijak pada realitas justru berpotensi menimbulkan persoalan baru, terutama bagi pelaku usaha dan masyarakat yang sudah lama beraktivitas di suatu wilayah.
"Penentuan jalur hijau, jalur merah, dan jalur kuning itu harus benar-benar dilihat langsung kondisi di lapangan. Jangan sampai lahirnya zonasi justru karena kepentingan politik, bukan realitas yang ada," ujar Sardy dalam rapat bersama jajaran Pemprov DKI Jakarta beberapa waktu lalu.
Ia mencontohkan, di sejumlah wilayah Jakarta saat ini telah berdiri pabrik, perkantoran, hingga home industry yang telah beroperasi puluhan tahun.
Namun, akibat perubahan kebijakan tata ruang dari waktu ke waktu, aktivitas tersebut kerap dianggap tidak sesuai zonasi dan diminta untuk dipindahkan.
"Di lapangan itu faktanya ada pabrik, ada perkantoran. Karena kebijakan yang berubah-ubah, akhirnya ketika diminta pindah, itu jadi rumit. Kita tidak mungkin memindahkan satu lokasi secara cepat," katanya.
Sardy juga mengungkapkan pengalaman pribadinya terkait inkonsistensi kebijakan tata ruang.
Anggota Komisi D itu menyebut pernah diminta memindahkan pabrik pada satu masa kepemimpinan, namun pada periode berikutnya izin justru kembali diterbitkan.
"Ini yang sering menjadi permasalahan. Ketika disuruh pindah tentu terjadi konflik, karena tidak mudah mencari lahan baru, apalagi di luar Jakarta. Kami sudah hampir 20 tahun berada di lokasi tersebut," ucapnya.
Karena itu, DPRD DKI Jakarta mendorong Pemprov untuk melakukan penataan zonasi secara komprehensif dengan pendekatan faktual, partisipatif, dan berkeadilan.
Kebijakan tata ruang dinilai harus memberi kepastian hukum sekaligus melindungi keberlangsungan usaha dan lapangan kerja.
"Zonasi harus lahir dari kondisi nyata di lapangan, bukan karena kepentingan sesaat. Ini penting agar kebijakan tata ruang tidak terus menimbulkan polemik di kemudian hari," pungkas Sardy. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor Kepulauan Faroe vs Kazakhstan di UNL, 26 September 2026: Tuan Rumah Punya Modal Kandang Kuat
- 2Prediksi Skor Islandia vs Estonia di UNL, 26 September 2026: Tuan Rumah Incar Awal Positif
- 3Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di UNL, 25 September 2026: Duel Perdana yang Sulit Diprediksi
- 4Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di UNL, 25 September 2026: Dapatkah Khvicha Kvaratskhelia Menjadi Pembeda?
- 5Prediksi Skor Armenia vs Latvia di UNL, 25 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Tanpa Kemenangan?
- 6Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UNL, 27 September 2026: Duel Seru di Kaunas!
- 7Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di UNL, 26 September 2026: Mampukah The Brave Falcons Lanjutkan Tren Positif?
- 8Prediksi Skor Andorra vs Malta di UNL, 24 September 2026: Mampukah Tim Tamu Pertahankan Rekor Tak Terkalahkan?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!

